Renungan tahun politik

Tahun politik, fenomena langganan yang sudah berlangsung selama 5 tahunan kembali lagi menjadi kemeriahan menuju pesta demokrasi akbar di negeri ini. Tahun politik seringkali diibaratkan tahun mengejar popularitas dan elektabilitas bagi para peserta pemilu. Partai-partai peserta pemilu akan melakukan manuver-manuver pencitraan yang mengarahkan pada upaya ketertarikan para voters. Pencitraan ini secara alami adalah dinamika yang wajar untuk bisa menjadikan partainya terlabeli dengan kata menawan.

Penggambaran sebagai partai yang menawan ini menjadikan para peserta melakukan pertarungan visi dan misi partai. Keberadaan ideologi yang diusung hingga janji-janji yang diberikan menjadi amunisi untuk bisa menjadikan para voters merasa sepaham dan sejalan. Para peserta pemilu ini (partai) melakukan klaim sebagai pihak yang mampu mengerti apa yang diinginkan oleh para voters.

Ideologi berbasis nasionalis dan religius menjadi stempel apik untuk mengarahkan logika para voters bahwa tidak salah memilih partai tersebut. Usungan akan kerja nyata, perubahan lebih baik, kesejahteraan bersama hingga ketegasan dalam hukum menjadi pemanis janji yang disebarkan. Pesta demokrasi ini terlihat ideal dan indah dengan memberikan angin segar menuju konsep negeri yang toto tentrem kerta raharja.

Apa lacur dikata, dinamika pesta demokrasi 5 tahunan akhir-akhir ini seperti ironi. Ironi yang menggambarkan bahwa visi dan misi partai yang menjanjikan sebuah konsep negeri sejahtera hanyalah sebuah tawaran. Tawaran yang belum mampu dipenuhi dengan sejuta alasan yang usang.

Menguatnya ancaman pesimisme berpolitik

Ironi pesta demokrasi sangat terlihat dari bagaimana tingkat partisipasi pemilih hingga pemilu tahun 2009. Ketua KPU Husni Kamil Malik dalam salah satu media menyebutkan bahwa tingkat partisipasi pemilih semakin menurun. Klaim penurunan ini terlihat dari data angka yang menyebutkan bahwa dari pemilu tahun 1999 tingkat partisipasi masih mencapai 93,30 persen. Pemilu tahun 2004 mengalami penurunan partisipasi pemilih hingga 84,07 persen. Pada pemilu tahun 2009 terjadi penurunan partisipasi kembali hanya sebesar 70,99 persen. Kondisi ini menjadi salah satu sinyal yang cukup nyata adanya sebuah kesalahan yang sifatnya berulang.

Tidak sedikit kalangan para pengamat menyebutkan bahwa penurunan tingkat partisipasi ini adalah buah dari berkembanganya golput. Golput ini secara sederhana dimaknai sebagai pihak yang tidak berpartisipasi di dalam pesta demokrasi yang diselenggarakan. Keberadaan golongan putih ini dalam realitasnya dapat digambarkan secara sederhana dalam 2 bentuk yaitu golput unsur teknis dan golput motif apatis.

Golput unsur teknis ini ibarat pihak yang kurang beruntung. Akibat kesalahan di dalam proses pencatatan Daftar Pemilih Tetap selalu saja terjadi human error yang memberikan kerugian bagi para voters. Secara ekstrem dapat dikatakan sebagai bentuk perampasan hak di dalam memilih. Hak memilih menjadi hilang akibat tidak tercantumnya data sebagai pemilih.

Golput motif apatis, inilah yang pada dasarnya menjadi ancaman yang nyata dan tidak terbantahkan terhadap keberlangsungan pesta demokrasi yang ideal. Motif apatis menjadi permasalahan yang saat ini mulai terang-terangan menguak. Para pemegang suara dengan yakin melakukan klaim bahwa pesta demokrasi ini dalam realitasnya hanya banjir janji dan kekecewaan pada akhirnya.

Golput motif apatis merupakan reaksi puncak kekecewaan para voters yang mendasarkan pada pengalaman. Logika politik para voters sudah terlalu banyak merekam jejak-jejak korupsi para wakil rakyat. Tidak sedikit menyimpan memori tentang janji kesejahteraan yang tidak berujung hingga gemboran cita-cita keadilan hukum yang belum kunjung ideal.

Politik dalam simpangan kekuasaan dan mensejahterakan

Fungsi politik menurut Rinakit (2008) mendasarkan pada dua bentuk yaitu apakah sebagai kiat atau ilmu. Fungsi kiat mengarahkan pada fungsi politik yang dijadikan alat untuk bisa melanggengkan kekuasan. Fungsi ilmu menjadikan politik sebagai alat untuk bisa mencapai kesejahteraan bersama. Ternyata, persepsi mayoritas mengenai politik hingga saat ini masih saja menyerukan fungsinya sebagai kiat. Para pelaku politik tidak mampu mencerminkan bagaimana sedianya politik itu sebagai sebuah ilmu yang mengarah pada kesejahteraan.

Kondisi tersebut nyata adanya ketika salah satu hasil survey pada tahun 2013 yang dirilis oleh Indikator yang menjabarkan bahwa kepercayaan terhadap beberapa pelaku politik tidak mencapai 50%. Kepercayaan terhadap DPR hanya 41%, kepercayaan terhadap partai politik 31% dan kepercayaan terhadap politisi hanya 30%. Hasil tersebut juga ditambah dengan pandangan negatif sebesar 59% pemilih memiliki persepsi bahwa politisi adalah orang-orang yang hanya mengejar keuntungan diri sendiri.

Menjadi pekerjaan berat bagi para pelaku politik saat ini pada tahun 2014. Ancaman golput apatis sangat nyata akibat persepsi negatif yang sudah sekian lama gerah dengan perilaku politik para politisi. Catatan penting bagi para pelaku politik adalah tahun politik bukanlah ajang untuk mencari suara dengan memperbanyak iklan politik melalui berbagai media. Tujuan politik bukan untuk mengejar maupun melanggengkan kekuasaan. Gebrakan iklan politik di tahun politik pada dasarnya indikator bahwa pelaku politik menyimpang dari tujuan politik yang seharusnya yaitu mensejahterakan.

Tidak perlu ngoyo mengejar popularitas atau elektabilitas di tahun politik jika memang benar-benar bekerja setiap saat untuk rakyat. Merupakan dinamika yang natural ketika bekerja untuk rakyat maka secara otomatis pun rakyat akan tahu siapa yang harus dipilih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s