Menakar logika politik pilihan voters

TAHUN POLITIK, inilah tahun 2014 yang menjadi salah satu tahun bersejarah dalam keberlangsungan negeri ini. Pesta demokrasi di Indonesia yang kesekiankalinya ini akan diselenggarakan untuk melakukan pemilihan para wakil rakyat di dalam menjalankan roda pemerintahan dan politik di negeri ini. Angka 9 telah menjadi pilihan untuk melaksanakan pesta demokrasi ini yaitu 9 April 2014 untuk pemilihan anggota DPR, DPRD serta DPD dan 9 Juli 2014 merupakan pemilihan akbar bagi calon presiden yang akan memimpin negeri ke depan. Pesta demokrasi sekali lagi akan menjadi catatan sejarah di negeri ini.

Satu hal yang pastinya akan selalu menjadi sorotan di dalam pelaksanaan pesta demokrasi ini yaitu kompetisi antar partai peserta untuk bisa mendapatkan hasil suara yang maksimal. Kompetisi antar partai untuk bisa menunjukkan dan menjadikan pilihan bagi para pemegang hak suara yang sah. Keberadaan dinamika kompetisi ini menjadi salah satu yang tidak bisa ditinggalkan di dalam kemeriahan pesta demokrasi itu sendiri.

Partai yang paling menawan
Upaya mencapai kemenangan di dalam pesta demokrasi nantinya inilah yang diusahakan para peserta partai untuk menjadi partai yang paling menawan. Sasaran tembak yang harus tercapai untuk menjadi partai yang paling menawan ini yaitu ketercapaian elektabilitas dan popularitas. Elektabilitas dan popularitas ini tidak hanya untuk institusi partainya tetapi juga seiring dengan calon-calon yang mewakili partainnya untuk berkompetisi merebut suara.

Elektabilitas dan popularitas ini menjadi materi yang seringkali menjadi indikator awal yang dicari. Mesin politik partai akan bergerak untuk bisa mencapai standar elektabilitas dan popularitas yang baik. Sekali lagi, kondisi tersebut untuk mencapai kata menawan sehingga menarik hati para pemilik suara yang sah.

Upaya ketercapaian kedua materi tersebut tidak jarang dengan berbagai iklan politik berupa penawaran yang mengagumkan hingga melakukan klaim sebagai pihak yang berpihak pada rakyat. Akhir-akhir ini tidak jarang kita melihat jargon-jargon partai yang menawarkan akan perubahan yang lebih baik kedepan. Melakukan klaim bahwa sebagai partai yang telah memberikan kerja nyata. Partai yang menjadikan suara rakyat adalah suara yang akan dijalankan oleh partai. Partai yang menyatakan diri berbasis nasionalis hingga religius hingga melakukan klaim sebagai partai yang bersih dengan mengatakan tidak pada korupsi. Sekali lagi inilah materi-materi yang digunakan menjadikan yang paling menawan.

Upaya tersebut adalah perihal yang wajar dan memang harus dilakukan jika ingin melakukan kompetisi politik. Partai sebagai simbol harus melakukan branding. Partai harus mampu menarik minat bagi para pemilik suara untuk mau ikut serta dalam pesta demokrasi yaitu dengan menjatuhkan pilihannya terhadap apa yang sudah disediakan oleh partai.


Kesalahan yang berulang

Apakah efektif? Pertanyaan ini muncul untuk menanggapi apa yang akhir-akhir ini dilakukan oleh partai melalui iklan-iklan politik yang sudah dikeluarkannya. Jawaban yang mungkin menurut penulis adalah efektif untuk popularitas tetapi tidak untuk elektabilitas. Mengapa seperti halnya tersebut? analisis yang dimungkinkan adalah iklan politik memang benar menjadikan masyarakat mulai mengenal. Iklan politik hanya akan menjadi konsumsi kognitif yang memberikan pengetahuan akan keberadaan partai-partai peserta pemilu maupun calon dari partai. Akan tetapi apakah keberadaan popularitas ini mampu mendongkrak elektabilitas inilah yang masih menjadi pertanyaan.
Keberadaan elektabilitas yang mengarah pada tingkat keterpilihan inilah yang sepertinya partai tidak pernah bisa belajar dengan baik. Partai seperti tidak mampu menangkap fenomena kesalahan berulang yang terus menerus mengejar popularitas melalui iklan menjelang pesta demokrasi dihelat.

Logika elektabilitas partai maupun calon dari partai tidak akan bisa hanya dibangun dengan iklan politik. Hal ini sangat erat kaitannya dengan skema dalam kognitif yang telah terbangun pada para pemilik suara. Skema dalam hal ini digambarkan sebagai kerangka mental didalam mengorganisasikan dan menggunakan informasi-informasi yang dimiliki untuk memunculkan satu keputusan (Baron, dkk, 2008). Skema menjadi motif kuat bagaimana individu melakukan respon yang terkait dunia sosialnya dalam hal ini salah satunya adalah pilihan politiknya. Skema dalam hal ini terbangun dari informasi-informasi hingga pengalaman-pengalaman yang sudah ditangkap dan dialami sebelumnya.

Celakanya informasi maupun pengalaman mengenai partai politik sampai saat ini masih belum bisa membuktikan sebagai salah satu institusi yang memang bekerja untuk rakyat. Tidak sedikit partai yang hanya menawarkan janji menjelang pemilihan akan tetapi tidak memberikan output yang memuaskan bagi pemilih. Partai politik masih menjadi salah satu institusi yang kadernya banyak terjerat kasus korupsi. Partai seperti layaknya penyuplai para koruptor. Partai belum benar-benar mampu menjadikan politik sebagai layaknya tujuan politik yang mengarah pada kesejahteraan. Implementasi politik yang benar melalui partai politik masih tanda tanya. Indikator-indikator untuk melihat standar yang baik untuk memilih dianggap masih gagal.

Jangan salahkan para pemilik suara melakukan klaim menjadi golongan putih. Golongan yang terlihat apatis akan pesta demokrasi dan hasil dari pesta itu sendiri. Kondisi seperti ini layaknya harus dikembalikan kembali kepada partai yang memang hanya mampu mengejar popularitas tetapi tidak mampu memenuhi standar elektabilitas masyarakat yang menjadi takaran logika politik untuk melakukan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s