Gerakan “sehari tanpa kendaraan bermotor pribadi (di Jakarta)”

Memang baru 3 tahun di Jakarta, tapi rasanya bolehlah memberikan sedikit curhat mengenai kondisi Jakarta ini khususnya kemacetan. Memang problem klasik yang belum bisa mendapatkan solusi nyata dan seringkali menjadi bahan perdebatan warga di warung kopi hingga dimainkan menjadi area politik. Kalau sudah diranah politik, bukannya memberi angin segar malah menjadi tambah ruwet.

Melihat keruwetan di kota Jakarta ini sudah sering dan banyak sekali diskusi-diskusi para ahli transportasi mengenai kemacetan ini. Dari diskusi tentang analisis apa yang menyebabkan kemacetan hingga solusi yang mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi kemacetan ini. Kondisi ini menjadikan kita kenyang analisis dan kenyang solusi sampai-sampai kita sepertinya susah untuk bergerak menjalankan solusi yang seharusnya sudah berjibun adanya.

Beberapa analisis yang seringkali dimunculkan mengenai kemacetan ini adalah yang pertama meningkatnya jumlah kendaraan pribadi baik sepeda motor dan mobil. Dua kendaraan pribadi untuk bahasa populer ini adalah sebagai “kambing hitam”. Keberadaan peningkatan kendaraan pribadi yang ada di dalam kota Jakarta tidak hanya berasal dari dalam kota akan tetapi meliputi jabodetabek. Peningkatan jumlah 2 kendaraan pribadi ini dalam lingkup jabodetabek dalam Tempo.com pada 30 Juli 2013 dikabarkan sudah mencapai 26,1 juta unit untuk sepeda motor dan 5,3 juta unit untuk mobil. Jumlah yang sangat wah dan diberitakan lebih lanjut bahwa pada tahun 2014 Jakarta akan mengalami macet total.

Kedua, permasalahan macet ini ditengarai oleh tidak tersedianya dengan baik transportasi umum yang ada. penilaian ini mendasarkan pada konteks kenyamanan, keamanan, dan perhitungan ekonomi. Penilaian yang minus terhadap transportasi di Jakarta ini menurut para analisis terlihat dari beberapa indikator-indikator yaitu kondisi fisik kendaraan umum yang rusak atau tidak laik jalan atau malah tidak layak dianggap transportasi umum, jumlah transportasi umum yang kurang memadai dengan jumlah penumpang, secara perhitungan ekonomi penggunaan kendaraan umum lebih mahal dibanding kendaraan pribadi, tidak sedikit para tangan-tangan jahil (pencopet, peraba, pemalak, dll yang berawalan P) mengintai dan ternyata menggunakan kendaraan umum belum bisa memenuhi hasrat tujuan utama berkendara yaitu cepat sampai tujuan karena sama-sama terkena macet.

Memang sudah banyak analisa-analisa seperti halnya sudah disebutkan di atas tadi. Tidak lupa juga dengan memberikan solusi-solusi yang sangat mudah untuk diutarakan secara konsep tetapi sepertinya sulit sekali untuk direalisasikan. Ujung-ujungnya adalah…kita bisa tebak kondisi macet ini salah satunya menjadi komoditas untuk saling menyalahkan atau saling melempar tanggung jawab. Siapa saja yang mungkin terlibat? Ya bisa terlihat yaitu pemerintah dan masyarakatnya, para pendukung yang pro pemerintah dan kontra pemerintah, hingga kelompok yang paling tidak penting bagi saya yaitu dari partai politik.

Ternyata yang macet tidak hanya di jalanan Jakarta, tetapi kemacetan juga terjadi untuk bisa bersinergi bersama-sama mengatasi kemacetan di jalan ini. Memang diperlukan kesadaran masing-masing pihak untuk mungkin bahasanya menjalankan perannya masing-masing. Peran dalam hal ini adalah tindakan yang sangat mungkin untuk dilakukan sesuai dengan power yang dimiliki. Pemerintah memiliki power untuk mengatur dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang pro untuk mengurangi kemacetan. Di sisi lain, kita sebagai masyarakat bisa menjalankan perannya untuk bisa memulai melakukan perilaku yang bisa dibilang dinamis. Mencoba melakukan perilaku yang berbeda dari biasanya. Ya salah satunya mungkin saja ada melepaskan kendaraan pribadi kita dan beralih ke kendaraan umum, sepeda atau malah jalan kaki. Ini pastinya akan ada suasana yang berbeda. Yang pasti berbeda dari kondisi kemacetan hingga mungkin tingkat polusi yang jauh berbeda. Atau kalau perlu ada program yang diinisiasi dari masyarakat dan pemerintah yaitu “Gerakan Sehari Tanpa Kendaraan Bermotor Pribadi”. Mungkin saja dan semoga saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s