Pelanggaran…pelanggaran…pelanggaran…

Apakah sepakat bahwasanya saat ini jumlah pelanggaran lalu lintas yang terjadi masuk dalam kategori yang cukup tinggi? Permasalahan akan pelanggaran ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, karena dengan di daerah-daerah juga tidak jarang kita mendapati banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Beberapa hal yang bisa kita ambil contoh dalam pelanggaran-pelanggaran baik di kota besar maupun di daerah-daerah saat ini secara nyata yang terjadi baik kendaraan pribadi maupun kendaraan angkutan umum yaitu sebagai berikut:

1. Pelanggaran kendaraan pribadi:
a. Pelanggaran menerobos lampu lalu lintas.
b. Pelanggaran tidak menggunakan helm.
c. Pelanggaran marka jalan.
d. Anak-anak mengendarai sepeda motor.
e. Berjalan dengan melawan arus lalu lintas.
f. Tidak memiliki kelengkapan surat-surat kendaraan.
g. Pelanggaran batas kecepatan.
h. Dll.

2. Pelanggaran angkutan umum:
a. Pelanggaran angkutan umum dengan menaikkan dan menurunkan penumpang sembarangan.
b. Pelanggaran batas kecepatan.
c. Mengambil penumpang secara mendadak.
d. Menerobos lampu lalu lintas.
e. Pelanggaran terhadap marka jalan.
f. Berhenti tidak pada tempatnya.
g. Dll.

Beberapa bentuk pelanggaran-pelanggaran ini merupakan hal yang biasa kita dapati dalam perilaku berkendara saat ini. Perilaku tersebut bukan juga suatu hal yang mustahil bahwasanya kita adalah para pelaku yang setiap hari menjalankan perilaku berkendara yang pada dasarnya tidak dibenarkan dan tidak aman bagi dinamika berkendara di jalanan. mengapa orang begitu mudah melakukan pelanggaran yang kaitannya dengan tujuan utama dalam berkendara bagi para pengendara sendiri adalah untuk cepat berada pada tujuan yang dituju (Fuller, 2005)??? salah satu konsep teori yang bisa menjelaskan adalah Teori Tindakan Beralasan dan Perilaku Yang Terancang yang dijelaskan oleh Ajzen (2005).

Munculnya kecenderungan akan pelanggaran yang terjadi akibat pertimbangan sebagai berikut:

1. Apa yang akan diperoleh saat kita menjadi pribadi yang patuh terhadap peraturan? Bagaimanakah kita dalam menyikapinya?

Bukan menjadi rahasia lagi bahwasanya keadaan jalanan kita sangat penuh dan sesak. Hal inilah yang tidak terlepas dari kesan ruwet, semrawut maupun polusi tingkat tinggi di jalanan saat ini. Situasi ini diperparah dengan kondisi cuaca yang bisa saja sangat panas menambah ”panasnya” situasi di jalanan atau malah mungkin hujan mengguyur menambah kesan ribet kesesakan di jalanan. Saat kita mencoba untuk menjadi pribadi yang patuh maka tidak sedikit gejolak ketidaknyamanan yang tinggi akibat kondisi yang tidak mendukung tersebut. Yang pada akhirnya merupakan suatu keniscayaan bahwasanya pelanggaran tersebut merupakan bentuk menjauhkan kita dari situasi ketidaknyamanan yang terjadi di jalanan.
Selain hal tersebut, asumsi kedua yang bisa dibangun saat ini adalah keberadaan hukum yang belum bisa secara maksimal menjadi pengikat perilaku berkendara yang benar. Hukum masih dalam taraf menjadi slogan yang seringkali tidak mampu menangani situasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di jalanan. Tidak sedikit adanya pembiaran yang terjadi saat banyaknya kendaraan pribadi maupun umum melakukan pelanggaran marka, menerobos lampu lalu lintas, kecepatan di atas batas maksimal dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Situasi ini kembali diperparah bahwasanya tidak sedikit hukum bisa ”dipermainkan” dengan adanya uang damai saat para pelanggar berhadapan dengan produk hukum itu sendiri. Kondisi seperti halnya ini diakui maupun tidak akan meningkatkan bentuk-bentuk pelanggaran yang konsisten karena hukum inkonsisten terhadap pelanggaran itu sendiri. Sehingga bukankah ini bentuk pandangan ”kerugian” bagi para pengendara yang patuh karena tidak ada perbedaan perlakuan? Bukankah lebih baik berada pada pihak yang tidak patuh karena bisa mendapatkan efisiensi waktu lebih baik untuk sampai pada tujuan toh tidak ada hukumannya?

2. Bagaimanakah penerimaan dan penolakan yang ada dari pihak terdekat terhadap perilaku pelanggaran yang kita lakukan? Bagaimanakah kita mempersepsi terhadap tekanan yang bersifat sosial terkait perilaku pelanggaran tersebut?

Terkait dengan pertimbangan ini maka dapat kita ambil gambaran secara sederhana bahwasanya tidak jarang dan tidak sedikit kerabat, pacar, istri hingga para penumpang angkutan umum pun memiliki paham yang sama saat berada di jalan. Semakin cepat sampai tujuan semakin baik dan itu adalah hal yang paling penting dibandingkan dengan mematuhi aturan. Situasi ini adalah sebuah realitas yang terjadi dimana pandangan-pandangan dari pihak terdekat selain kita pun memiliki pandangan yang sama akan ketidaknyamanan di jalan. Malah mungkin kita di cap sebagai orang yang sok idealis, buang-buang waktu atau malah kena dampratan ”sayang” saat berusaha menjadi pribadi yang patuh.
Adanya dukungan-dukungan yang sifatnya menekan kita untuk tidak terlalu patuh atau malah tidak perlu untuk patuh dalam hal ini memberikan penguatan yang sifatnya negatif. Penguatan ini menjadi kesan bahwasanya tekanan secara sosial yang arahnya bersifat tekanan moral tidak menjadi pertimbangan yang penting dalam menunjukkan perilaku kepatuhan. Tidak perlu menjadi malu saat menjadi orang yang bersalah dalam berperilaku, toh orang-orang terdekat kita lah yang menginginkan kita untuk berperilaku seperti halnya tersebut.

3. Apa yang bisa menghambat kita dalam patuh dalam berkendara? Apakah kita merasa untuk mampu melaksanakan kepatuhan tersebut?

Asumsi ini berangkat dari permasalahan dengan banyaknya jumlah kendaraan saat ini. Yang mana pada dasarnya kondisi ini meningkatkan sifat terburu-buru para pengendara untuk menghindari ketidaknyamanan di jalanan. Dengan kondisi mayoritas para pengendara yang menghendaki untuk terburu-buru, maka usaha untuk mengambil kesempatan sekecil apapun saat di jalanan menjadi hal yang harus dilakukan. Situasi ini bisa kita gambarkan salah satunya dengan mempercepat laju kendaraan saat lampu lalu lintas menunjukkan warna kuning maupun para pengendara berusaha untuk melanggar batas marka yang ada untuk tidak ”tertangkap” lampu merah kedua kalinya. Posisi ini sungguh menyulitkan bagi para kaum minoritas yang patuh akan peraturan yang ada. Situasi nyata ini sungguh terjadi salah satunya saat para pengendara minoritas ini berusaha untuk patuh dengan mengurangi laju kendaraan saat lampu berwarna kuning. Suatu keniscayaan bahwasanya kita sebagai pihak yang berusaha untuk patuh akan menjadi pihak yang bersalah karena dianggap memperlambat laju kendaraan yang ada di belakang. Salah kaprahnya peraturan dan sifat terburu-buru para mayoritas pengendara ini pada dasarnya menjadi salah satu penguat untuk menghilangkan perilaku-perilaku kepatuhan pengendara minoritas dalam bentuk konformitas.

Asumsi kedua, terkait dengan kondisi angkutan umum yang ada saat ini maka situasi kepatuhan tersebut bisa digambarkan mendekati titik kemustahilan untuk dijalani. Situasi kepatuhan ini dalam kenyataannya sangat belum mungkin untuk bisa dilakukan oleh para sopir angkutan umum. Keadaan ini sangatlah mudah kita temui dalam perilaku para sopir saat menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempat yang semestinya dan secara tiba-tiba merupakan bentuk upaya mereka untuk melakukan pelayanan terhadap penumpang. Penumpang dalam hal ini memiliki andil di dalam membentuk dinamika pelanggaran yang terjadi akan keberadaan angkutan umum. Dimana penumpang adalah sumber pemasukan yang harus diperoleh oleh para sopir angkutan umum.

Kita pahami bahwasanya permasalahan akan transportasi kita khususnya terkait pelanggaran adalah permasalahan yang kompleks. Tingginya tingkat penggunaan kendaraan di jalanan sendiri merupakan salah satu penyebab banyaknya pelanggaran yang terjadi di jalanan saat ini. Bukanlah hal yang mudah bagi pemerintah maupun kepolisian untuk mengatasi fenomena ini, karena apa mau dikata kalau kita sebagai pribadi sendiri memiliki pertimbangan-pertimbangan yang tidak mendukung di dalam penegakan kepatuhan di jalan. Tinggal tergantung bagaimana nilai yang kita acu saat ini dalamberkendara. Memang benar situasi maupun kondisi di jalanan sana cenderung menggambarkan ketidaknyamanan, kesemrawutan dan kengawiran. Akan tetapi situasi ketidaknyamanan, kesemrawutan maupun kengawiran itu adalah hasil aplikasi dari perilaku. Kondisi adalah hasil karya dari perilaku manusia jadi intinya dari manusia, untuk manusia dan oleh manusia (peace man).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s