Keniscayaan Kebhinekaan Bangsa

Konsep Bhineka Tunggal Ika menjadi salah satu pilar menjalankan negara yang digagas oleh para pendiri bangsa ini. Kebhinekaan bangsa ini tercermin dari keragaman agama, suku, budaya, ras, maupun bentuk-bentuk keragaman yang tidak dimiliki oleh negara lain. Arah dan tujuan yang ingin diciptakan mengarahkan kita pada usaha menciptakan kesatuan di dalam ragam yang ada. Bhineka Tunggal Ika pada dasarnya diharapkan mampu menjadi “fasilitator” di dalam meredam efek keragaman yang pada kenyataannya dapat menggoncang negara ini. Seperti halnya sering kita dengar bahwasanya keragaman memiliki dua nilai yang bertolak belakang, keragaman sebagai kekayaan atau sebagai ancaman.

Seiring berkembangnya negara ini, permasalahan keragaman (baca: kebhinekaan) masih memiliki potensi yang cukup negatif mengarah pada perpecahan. Permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di negeri ini seperti halnya menjadi pemantik. Pemantik yang bisa menyulut problematika lama atau memunculkan problematika baru akan persatuan sehingga dapat melumerkan semangat kebhinekaan tunggal ika yang diinginkan para pendiri negeri ini.

Identitas kelompok memunculkan kata sama.

Keragaman di Indonesia mengidentifikasikan bahwasanya negeri ini dibangun atas berbagai macam bentuk kelompok yang ada. Kelompok menurut Walgito (2007) pada dasarnya terbentuk atas dasar kesamaan tertentu. Kesamaan-kesamaan ini kita sadari bahwasanya terdapat kandungan akan kesamaan baik terlihat secara fisik maupun dalam bentuk nilai, tujuan dan keinginan. Kelompok pada dasarnya merupakan bentuk identitas sosial seorang individu. Pada realitasnya, identitas sosial ini akan memunculkan konsep kita dan mereka.

Konsep identitas akan “kita” dan “mereka” (Tajfel, 1984) inilah yang pada dasarnya potensi yang harus diwaspadai akan memicu timbulnya konflik. Identitas pada dasarnya menjadi atribut yang melekat pada individu. Saat identitas ini digeneralisasikan pada kelompoknya maka perasaan memiliki kelompok akan menguat dalam diri sehingga sifat alami dalam dinamika kelompok membentuk “kelompok kita” dan “kelompok mereka”.

Kesamaan yang dibentuk dalam kelompoknya sendiri bahwasanya secara alami menimbulkan perasaan ingroup favoritism. Perasaan bahwasanya kelompok sendiri merupakan kelompok yang lebih baik dibanding dengan kelompok yang lain. Kondisi saling tidak menghormati dan menerima perbedaan antar kelompok sebagai keharusan yang dijaga menjadi salah satu potensi yang mengancam.

Menumbuhkan identitas kebhinekaan bangsa.

Tujuan dalam pembentukan konteks bhineka tunggal ika pada dasarnya adalah membentuk kesatuan atas keragaman yang dimiliki oleh bangsa ini. Kita sepakati bahwasanya Indonesia dibangun atas dasar identitas maupun nilai-nilai kedaerahan yang sudah terbentuk sebelumnya. Dari Sabang hingga Merauke sudah memiliki identitas serta nilai-nilai bawaan yang tidak mungkin bisa kita hilangkan. Kedaerahan kita akan menjadi identitas yang tidak bisa ditanggalkan. Keyakinan terhadap Tuhan juga dimaknai secara beragam. Persepsi maupun sikap yang terkonstruksi dari kebudayaan maupun nilai kedaerahan sendiri pun tidak akan mungkin dihapuskan. Kondisi ini harus disadari oleh pribadi masing-masing bahawasanya kita ini berbeda dan etnosentrisme sebuah keniscayaan yang ada.

 Keberadaan etnosentrisme ini dijelaskan oleh Matsumoto (2003) sebagai suatu kondisi dalam diri yang memiliki kecenderungan untuk melihat dunia dari sudut pandang budayanya sendiri. Lebih lanjut etnosentrisme ini dalam realitasnya harus dipahami sebagai kondisi yang seharusnya tidak diarahkan pada suatu hal yang bersifat baik atau buruk. Karena menurut Matsumoto (2003) etnosentrisme ini menggambarkan pada kondisi diri yang secara mendasar memiliki filter terhadap segala pandangan di luar dirinya dengan mendasarkan pada nilai yang sudah dipelajari lingkungan sebelumnya.

Dengan melihat kondisi tersebut, maka kita sadari bahwa kita berbeda dan akan selalu berbeda. Berbeda secara persepi, sikap maupun perilaku sangat dimungkinkan di dalam proses sosial kita. Melihat realitas yang ada ini maka kita juga dituntut untuk mampu memahami dan menerima bahwa konsep bhineka tunggal ika inilah yang sudah tepat untuk diaplikasikan dengan kondisi masyarakat di negeri ini. Konsep ini mengarahkan bukan pada menghilangkan identitas maupun nilai yang sebelumnya sudah melekat dalam diri individu. Akan tetapi mengarahkan pada kesadaran untuk menjadi fleksibel. Kesadaran untuk mau menerima dan bersifat tidak kaku terhadap perbedaan yang sudah nyata adanya.

Usaha untuk mencapai kondisi penerimaan yang baik antar sesama inilah yang sedianya menjadi tujuan bersama. Akan lebih baik ketika kita mampu menjadi pribadi yang mencoba untuk mencari sub ordinat baru dari konteks identitas serta nilai yang ada. Inilah yang disebut oleh Faturochman (2008) dengan membentuk identitas kebhinekaan yang tepat melalui identitas ganda hirarkhis dan persilangan kategori. Kita secara sadar dan sukarela mencari persamaan yang mungkin di atas perbedaan-perbedaan yang sudah ada bukan dalam tataran konteks menghilangkan apa yang sudah ada. Nilai-nilai universal maupun identitas tertentu yang disepakati bersama menjadi pedoman maupun pegangan kita di dalam melakukan relasi sosial. Pelanggaran terhadap kesepakatan yang ada secara otomatis akan diberikan bentuk punishment yang sesuai dengan aturan sehingga konsep keadilan menjadi salah satu pedoman penguat di dalamnya.

Kita memiliki kondisi negara yang bisa dengan bangga diakui sangat jauh berbeda dengan negara-negara lain yang ada terkait dengan keberagaman. Keberadaan keragaman menjadi perihal yang tidak bisa kita hindari. Tugas kita semua saat ini adalah untuk menjaga pondasi keanekaragaman ini menjadi pondasi yang kuat untuk membangun serta menjaga kemajuan dan persatuan di Indonesia raya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s