Berbeda itu rahmat???

Permasalahan mengenai perbedaan awal puasa dan nantinya mungkin ditutup dengan perbedaan saat idul fitri sudah menjadi hal yang “dilumrahkan” oleh umat Islam di negeri kita ini. Tidak sedikit jika perbedaan itu anggap sebagai bentuk rahmat. Perbedaan adalah hal yang biasa dan tidak perlu diperdebatkan. Atau malah perbedaan awal dan akhirnya nanti adalah hak dari masing-masing kelompok atau individu untuk melakukan pemilihan. Bagi saya pernyataan-pernyataan seperti itu naif rasanya. Mana ada perbedaan disebut sebagai rahmat ketika kita menyadari bahwa perbedaan tersebut seringkali menjadi pembicaran sinis antar kelompok maupun individu. Bagaimana bisa menjadi sebuah rahmat ketika perbedaan tersebut seringkali menjadi gambaran yang tidak elok di dalam keluarga. Istri dan suami pun bisa berbeda dalam memilih awal maupun akhir dalam berpuasa dan ini merembet kepada keputusan anak untuk lebih “memihak” posisi siapa. Hal yang lucu juga ketika pada “pemimpin” agama mengatakan tidak perlu memperdebatkan kembali masalah perbedaan tersebut tetapi dalam ranah akar rumput menjadi pembicaraan pergunjingan dan saling merendahkan.

Bagi saya pribadi sebagai orang awam yang tidak ahli dan tidak terlibat di dalam pengambilan keputusan yang menyangkut umat ini kadang tidak habis pikir. Mengapa selalu dijadikan “lumrah” hal yang seharusnya bisa dihindarkan. Saya sendiri pribadi lebih melihat kondisi ini layaknya menyimpan api dalam sekam. Kondisi ini hanya menjadi satu perihal yang mungkin bisa menyulut permasalahan yang lain. Terlalu banyak perdebatan penggunaan metode hisab atau rukyat yang semua pihak melakukan klaim benar tetapi tidak terlihat adanya keinginan untuk mengarah pada persamaan dan satu keputusan. Bukankah lebih baik sebagai umat yang memiliki satu identitas (Islam) cukup memiliki satu keputusan yang sama? Tidak lagi mendasarkan pada beragam identitas keorganisasian?

Apa yang sebenarnya ada dalam para pemikir, cendekiawan maupun ulama Islam terbaik di negeri ini. Apakah tidak pernah ada keinginan untuk menjadi kalimat rahmat itu benar-benar terwujud dengan berbentuk kesatuan bukan lagi perbedaan. Perihal apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan. Sudah sangat jelas bahwasanya untuk membentuk kesatuan harus menggunakan identitas yang sama. Jangan ada lagi keputusan di negeri ini untuk umat adalah berbasis karena saya berafiliasi dengan organisasi A, B, atau C. Sekali lagi, bagaimana bisa perbedaan itu rahmat ketika yang digambarkan dalam kondisi ini malah mendikotomikan individu dalam suatu identitas yang berbeda dan tidak jarang diawali dengan saling melakukan sindiran atau “saya benar dan kamu salah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s