APA HARUS MEMILIH?

Beberapa pesta demokrasi di daerah belum lama ini telah berlangsung. Para calon pemimpin yang ada akan bertranformasi menjadi seorang pemimpin yang diamanahi untuk menjalankan tugasnya selama 5 tahun mendatang. Apa yang sudah dijanjikan kepada para voters dalam berjalannya kampanye harus mampu dipenuhi. Realitas proses berdemokrasi ini juga harus diyakini bahwa pemimpin yang terpilih secara legal menggambarkan pilihan dari mayoritas masyarakat yang ikut di dalam pesta demokrasi tersebut.

Kata pesta seharusnya dekat dengan kata semarak dan ramai dengan banyaknya keikutsertaan individu. Akan tetapi dalam realitasnya, pesta demokrasi yang sudah dilaksanakan di daerah-daerah ini perlu mendapatkan catatan yang keterkaitannya dengan rasa semarak tersebut. Semarak pesta demokrasi menjadi tercoreng ketika ternyata kealpaan partisipasi masyarakat masih tergolong cukup tinggi. Kondisi ini dapat terlihat dari beberapa pemilihan kepala daerah yang sudah terlaksana. Pemilihan gubernur di Sumater Utara mencapai 63,38%, pemilihan gubernur Jawa Barat mencapai 36,3% dan pemilihan Gubernur Jawa Tengah mencapai 49%. Realitas para golongan putih ini nyata adanya dan menjadi salah satu “kesemarakan yang lumrah”.

Problem kealpaan masyarakat dalam berpartisipasi ini bukanlah permasalahan baru di dalam sistem demokrasi negeri ini. Akan tetapi sepertinya permasalahan “tradisi” ini seperti tidak disadari oleh para calon pemimpin yang bahwasanya para voters merupakan basis yang sangat penting di dalam proses pemenuhan amanah dan keberhasilan program kerja yang akan diusung nantinya.

Hukum kausalitas memilih.
Manusia sebagai individu pada dasarnya memiliki mekanisme tersendiri sehingga memunculkan satu pilihan yang dirasa sesuai dengan apa yang diinginkan. Mekanisme tersebut tidak terlepas dari proses keberadaan adanya stimulus tertentu maka munculah respon yang khusus pula. Ketika stimulus yang dimunculkan positif maka keberadaan respon pun akan bersifat positif. Situasi layaknya hal tersebut pada dasarnya mampu teraplikasikan pada dinamika aktif memilih seorang voters.

Seperti halnya digambarkan oleh Weisberg (1990), pada dasarnya ketertarikan seorang voters terpengaruh dengan kondisi afeksi positif yang ada dalam dirinya akan keberadaan calon pemimpin tersebut. Dengan adanya situasi tersebut, maka seorang calon pemimpin harus tergambarkan dengan figur yang positif seperti bermoral, tegas, peduli dan sifat positif lainnya.

Di dalam studi mengenai perilaku manusia ini, keberadaan kondisi tersebut menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin mengabdikan dirinya menjadi seorang pemimpin. Ketika seorang individu mengenal calon pemimpinnya dengan garansi yang baik maka sangat dimungkinkan dirinya akan menjadi salah satu voters yang akan menjalankan fungsinya dengan baik pula. Kondisi figur yang positif diposisikan sebagai stimulus yang positif sehingga memunculkan respon para voters yang positif pula. Dinamika seperti halnya tersebut dalam realitasnya akan mendapati kecenderungan pesta demokrasi yang pada dasarnya merupakan pesta bagi rakyat untuk menuju kesejahteraan bersama.

Pemimpin yang instan           
Menangkap keberadaan seorang figur pemimpin yang baik di dalam masyarakat kita saat ini tidak jarang hanya sebuah kamuflase temporer. Para calon pemimpin dalam realitasnya hanya mencoba memunculkan suatu imej diri yang dirasa cocok menjadi pemimpin. Perilaku-perilaku palsu seringkali tiba-tiba muncul dan bertujuan hanya untuk menggaet para voters. Para calon pemimpin tidak jarang baru ingat dengan masyarakatnya menjelang pemilihan dan baru peduli ketika tahun politik sudah berada di depan mata. Konsep figur seorang pemimpin positif yang sejati di negeri ini seringkali disederhanakan oleh para calon pemimpin di negeri ini dengan perilaku-perilaku tersebut.

Jiwa pemimpin yang sejati tidak bisa dibangun hanya dalam kurun waktu instan. Pemimpin merupakan “materi” yang tidak bisa dibangun dalam semalam layaknya Bandung Bondowoso membangun candi untuk Roro Jonggrang. Dinamika yang tidak mampu dicapai oleh nalar kognitif.

Calon-calon pemimpin instan tersebut pada dasarnya hanya melakukan penipuan persepsi pada masyarakat. Karena dalam realitasnya seorang pemimpin seperti halnya tersebut tidaklah memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Yang mana Vaughan dan Hoog (2011) menjelaskan bahwa setidaknya kepemimpinan yang baik salah satunya harus memiliki kepribadian positif yang riil. Dalam artian bahwa individu tersebut memang memiliki sifat-sifat positif yang sejatinya melekat dan bertahan dalam dirinya serta menjadi landasan dalam bertindak. Sekali lagi, tidaklah dibentuk dengan waktu yang instan.

Imej diri yang instan akan berbeda dengan imej yang memang dibangun sejatinya dengan proses waktu yang lama dan itu merupakan memang kondisi riil diri. Kondisi ini seharusnya disadari oleh para calon pemimpin yang berani menyatakan dirinya layak untuk dipilih. Calon pemimpin jangan lagi digambarkan dengan perilaku sadar diri yang terlambat. Jangan lagi senang melakukan penipuan terhadap msayarakat. Keberadaan pemimpin yang tidak instan tersebut dalam realitasnya akan selalu menjadi pertimbangan pilihan yang dilakukan oleh masyarakat sehingga pertanyaan apa harus memilih akan berganti dengan siapa yang terbaik harus dipilih.

2 thoughts on “APA HARUS MEMILIH?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s