Agamapun loyo dibuatnya

Berbicara permasalahan kasus-kasus korupsi maupun suap menyuap di negeri ini ibarat jamur yang bisa dengan mudah kita temui. Menyamakan korupsi maupun penyuapan dengan keberadaan jamur tidaklah salah ketika sama-sama banyak di dapati ketika kondisi yang ada hanyalah kelembapan dan biasanya ada di tempat-tempat yang terlihat kotor. Di negeri ini rasanya tidak akan ada habisnya mengenai permasalahan yang satu ini. Dimana saja, kapan saja dan siapa saja akan selalu ada kasus yang menjerat pihak-pihak tertentu. Korupsi dan suap menyuap selalu ada di kalangan publik figur hingga kalangan rakyat biasa.

Tidak sedikit hingga saat ini banyak yang menyuarakan di dalam pemberantasan korupsi. Dominasi suara untuk menyerukan tidak terhadap korupsi maupun suap menyuap bisa dengan mudah ditemui ketika mempertanyakan terkait sikapnya. Usaha mengatakan tidak terhadap korupsi ini banyak kita temui dengan berbagai pendekatan-pendekatan salah satunya adalah melalui agama itu sendiri. Agama di negeri ini dianggap sebagai suatu hal yang sifatnya sakral dan penting. Ini sudah sangat jelas tertera dalam Pancasila sila pertama mengenai Ketuhana. Selain itu, agama juga dianggap sebagai kebenaran bagi para pemeluknya masing-masing. Ajaran agama juga dianggap sebagai sumber yang kuat dalam hal-hal yang berkaitan dengan norma dan etika hingga dosa.

Pemaknaan agama seperti halnya tersebut memang yang seharusnya. Agama yang dimaknai sebagai penuntun kehidupan ini jelas menjadi “senjata” yang seharusnya mampu mematikan jamur-jamur sosial (baca: korupsi dan suap menyuap) yang merebak di masyarakat saat ini. Keberadaan agama seperti halnya dijelaskan oleh Ramayulis (2007) sangat jelas ketika menggambarkannya sebagai sumber nilai dalam kesusilaan hingga sebagai social control yang diarahkan pada tuntutan untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma yang dibenarkan, bermoral dan beretika. Agama akan menuntut seorang individu untuk memberikan kebaikan dalam berperilaku bukan hanya untuk dirinya akan tetapi bagi keberadaan yang lain.

Simbol-simbol agama yang terkontaminasi “jamur”
Jamur-jamur sosial yang sekali lagi bisa kita samakan dengan keberadaan korupsi maupun suap menyuap di negeri ini masih menjadi pekerjaan yang berat hingga saat ini. Harapan untuk menjadikan agama sebagai suatu senjata yang tiada tanding untuk melawan korupsi maupun suap menyuap di negeri ini sepertinya merambat turun ke arah pesimistis. Situasi ini secara nyata tidaklah salah ketika pihak-pihak yang melekat dengan simbol-simbol agama malah menjadi pesakitan akibat penyakit jamur sosial ini.

Tidak sedikit permasalahan korupsi di negeri ini menyeret instansi-instansi yang bersimbolkan agama. Masih banyak pula tikus-tikus berdasi yang seringkali mempermainkan dan menukar kesucian agama dengan sebuah materi melalui cara-cara yang tidak dibenarkan. Kondisi ini sudah sangat nyata terlihat dan dibeberkan dengan berbagai kasus yang sudah ada hingga saat ini. Dari kasus pengadaan kitab suci, pelaksanaan ritual agama yang dikelola oleh instansi pemerintahan, pejabat publik figur agama yang terseret kasus, oknum politik bernafaskan religius hingga rahasia umum banyaknya “pemalak” dalam pernikahan sudah menjadi beberapa contoh insiden yang memalukan. Kita sebagai masyarakat biasa pun mungkin tidak kalah hebatnya di dalam memanipulasi keberadaan agama untuk kepentingan sendiri.

Agama seperti telah terkikis kekuatan magisnya. Agama tidak lagi dianggap sebagai suatu ajaran yang mengarahkan pada kebaikan dan kejujuran hingga etika dan norma. Posisi agama hanya dijadikan sebuah tameng yang diharapkan mampu mengenyangkan perut dan menebalkan isi dompet. Agama sepertinya bukan pada masanya menjadi obat yang mujarab untuk menghilangkan penyakit jamu-jamur sosial ini.

Mengembalikan fungsi yang sebenarnya dari agama
Tidak salah sekiranya Prof. H. Rahman Abdul Mas’ud mengatakan bahwa agama dalam realitasnya di negeri ini belum mampu diamalkan dengan yang seharusnya di masyarakat kita. Lebih lanjut, dikatakan bahwa masyarakat kita hanya mampu mencapai pada hal-hal yang bersifat simbol bukan lagi perihal yang substansial dari agama itu. Kita sebagai individu sepertinya lupa mengenai tujuan yang sebenarnya dari suatu agama. Kita tidak mampu mengamalkan agama tersebut dengan semestinya hanya dikarenakan kita merasa sudah menjadi orang yang baik serta beragama ketika tataran simbol-simbol agama sudah melekat dalam diri.

Dengan beragama, pada dasarnya secara sederhana menuntut diri kita untuk menjadi pribadi yang taat dan patuh terhadap prinsip-prinsip dari Tuhan. Prinsip-prinsip yang mengarahkan kepada untuk menjadi pribadi yang baik dan berjalan sesuai dengan rambu-rambu maupun etika yang seharusnya. Konsep sederhana yang harus dipahami dalam penggambaran korupsi maupun suap menyuap adalah perilaku yang merugikan banyak orang untuk kepentingan pribadi. Kita melakukan sesuatu hal yang dalam konteks agama sudah sangat jelas dilarang. Kita sendiri telah mengkhianati keberadaan agama itu sendiri dengan menjadi pribadi yang mewajarkan perilaku-perilaku miring.

Bukankah dalam agama mengharuskan kita menjadi pribadi yang mampu memberikan kebaikan baik untuk diri, orang lain maupun lingkungan ketika menjalani kehidupan? Kadang tuntutan ini lebih banyak terpinggirkan ketika kita merasa sudah menjadi pribadi yang putih karena telah menjalankan peribadatan yang bersifat vertikal kepada Tuhan. Yang mana menjadikan kita lupa bahwa tuntutan membawa kebaikan yang bersifat horisontal (orang lain dan lingkungan) pada dasarnya memenuhi label dalam diri kita sebagai makhluk ciptaan-Nya yang lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s