Kemacetan dan Pola Adaptasi Pengendara di Kota Besar (Seri “parodi lalu lintas jalanan”).

Permasalahan mengenai transportasi darat di kota-kota besar Indonesia tidak terlepas dari banjirnya jumlah kendaraan yang ada di jalanan. Ujungnya permasalahan kemacetan menjadi pandangan yang biasa terjadi di kota besar. Hal ini dalam realitas perkembangannya juga memunculkan kesan ruwet, semrawut maupun banyaknya pelanggaran-pelanggaran di jalanan sebagai bentuk perilaku berkendara dalam menghadapi kemacetan. Tidak sedikit konsep-konsep solutif coba dilemparkan oleh para pemangku kepentingan di negara ini. Kita pahami bahwasanya konsep bus rapid transit TransJakarta di Jakarta, TransYogyakarta di Yogyakarta, maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia sudah mulai dijalankan. Konsep mass transportation dengan upaya perbaikan maupun alternatif lain yang mulai digagas oleh pemerintah daerah Jakarta merupakan salah satu bentuk solutif yang menjadi kebutuhan mendesak. Upaya pelebaran jalan, pembuatan jalan alternatif maupun tol baru ditempuh sebagai bentuk mengurai dan mengurangi kemacetan yang biasa terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Akan tetapi dalam realitasnya, permasalahan kemacetan akibat banyaknya jumlah alat transportasi darat ini masih terjadi dalam kategori yang memprihatinkan. Mengurai lebih dalam mengenai sebuah permasalahan kemacetan di kota-kota besar Indonesia tidak akan terlepas dari para pengguna alat transportasi darat itu sendiri. Dalam hal ini masyarakat di kota-kota besar menjadi target utama di dalam usaha mencoba memahami kemacetan terkait akibat tingginya jumlah kendaraan.

Kemacetan sebagai bencana

Berbicara mengenai sebuah kemacetan di kota-kota besar Indonesia saat ini tidaklah berlebihan jikalau kondisi ini dinamakan sebagai salah satu bentuk bencana. Konteks bencana dalam hal ini ditekankan pada suatu kondisi yang pada dasarnya memberikan sebuah konsekuensi negatif secara luar biasa bagi kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri (Veitch dan Arkkelin, 1995). Penekanan konsep bencana pada kemacetan akibat tingginya jumlah kendaraan di kota-kota besar secara jelas bisa dilihat bahwasanya kita diancam dengan efek tingginya tingkat polusi yang berpengaruh positif terhadap tingginya tingkat agresivitas akibat asap kendaraan (Kynawi, 2009). Kemacetan akibat tingginya jumlah kendaraan di kota besar memberikan peluang dalam meningkatnya stres (Munawar, 2007) karena dalam kenyataan yang kita lihat bahwasanya kemacetan tidak akan terlepas dari kesemrawutan dan keruwetan. Yang mana hal-hal tersebut ditambah dengan rendahnya tingkat kesadaran akan peraturan dan tingginya jumlah kecelakaan yang ada di jalanan (Munawar, 2007).

Pola adaptasi pengendara menghadapi bencana kemacetan

Berbicara mengenai kemacetan dalam kota-kota besar di Indonesia tidak akan ada habisnya. Permasalahan tingginya jumlah kendaraan yang sudah overload dengan kapasitas jalanan yang ada menjadi pekerjaan rumah yang belum dapat terselesaikan dengan solusi yang jitu. Situasi inilah yang pada realitasnya menjadikan para pengguna jalan khususnya para pengendara di kota besar menjalani pola adaptasi terhadap kondisi yang dihadapi di jalanan.
Pola adaptasi ini digerakkan dengan motivasi dasar para pengendara yang dijelaskan oleh Fuller (2005) sebagai usaha untuk cepat sampai tujuan yang diinginkan. Pola adaptasi yang seringkali dilakukan dan “sangat mudah” dilakukan menghadapi kemacetan di kota-kota besar Indonesia diantaranya adalah:

1. Menggunakan kendaraan yang praktis, efektif dan efisien di dalam kemacetan yaitu sepeda motor. Meningkatnya sepeda motor di jalanan saat ini seringkali menjadi alasan bahwa kendaraan tersebut lebih mampu “blusukan” jika kemacetan sudah terjadi. Sepeda motor mampu menerobos ruang-ruang sempit yang tidak dapat dilakukan oleh kendaraan roda empat. Kondisi meningkatnya sepeda motor tersebut sepertinya melegitimasi kebenaran yang “katanya” angkutan masal sangat tidak berhasil untuk dijadikan sebagai alternatif di dalam mengurangi kemacetan. Keberadaan angkutan masal yang tidak mampu menjadi alternatif bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan seringkali disalahkan dengan tidak layaknya keberadaan angkutan masal yang ada saat ini. Tidak sedikit angkutan masal yang ada di kota-kota besar malah memberikan ancaman-ancaman lain bagi para masyarakat yang akan maupun ingin menggunakannya.

2. Menerobos lampu lalu lintas untuk “melarikan diri”. Iya ini salah satu pola adapatasi yang sekarang sepertinya malah menjadi hal yang lumrah. Kondisi ini lagi-lagi didasari dengan situasi jalanan yang sudah sangat padat. Kondisi jalanan yang padat akibat banyaknya kendaraan yang ada menjadi dorongan yang kuat bagi para pengendara untuk cepat-cepat kabur dari situasi kepadatan tersebut. Situasi kabur ini tidak jarang kita lakukan saat menghadapi lampu lalu lintas. Pola perilaku yang melanggar aturan warna merah, kuning dan hijau sepertinya sudah sangat biasa. Malah kondisi tersebut menjadi kewajaran akibat sering dilakukan. Beberapa hal alasan sepertinya bisa menjadi jawaban mengapa para pengendara seringkali melakukan pelanggaran lampu lalu lintas. Pertama, akibat kondisi jalanan yang padat, sumpek dan semrawut mungkin mempengaruhi stamina dan kebugaran fisik pengendara sehingga terjadi “rabunisasi” kalau warna kuning dan merah mendadak berubah jadi warna hijau. Kedua, karena terlalu lama bergelut dengan asap kendaraan di jalanan maka kemampuan kognitif para pengendara mengalami penurunan sehingga menjadi lupa kalau merah sekarang itu berhenti kalau sudah melewati 2-3 detik, kuning itu mempercepat kendaraan supaya tidak kena lampu merah dan hijau baru diperbolehkan jalan (catatan: alasan pertama dan kedua Cuma guyon lho mas…mbak…).

3. Pelanggaran terhadap hak para pejalan kaki. Situasi tersebut seringkali terlihat saat kemacetan berlangsung, para pengendara sepeda motor khususnya seringkali melakukan perampasan hak para pejalan kaki untuk berjalan dengan aman. Kondisi kemacetan seakan-akan dijadikan pembenaran bagi para pengendara sepeda motor untuk menggunakan trotoar maupun jembatan penyebarangan untuk bisa mempercepat laju dan mencari jalan potong untuk sampai tujuannya. Kondisi seperti halnya tersebut sangat memungkinkan akan memberikan efek buruk bagi para pejalan kaki. Keamanan para pejalan kaki sangat tidak diperhatikan. Dalam hal ini keegoisan para pengendara terlihat sangat jelas. Kesadaran dalam berkendara yang teratur dan aman sangat sulit dipenuhi. kemacetan, kesemrawutan maupun kepadatan menjadi suatu bentuk legitimasi terhadap apa yang dilakukan oleh para pengendara terkait dengan penggunaan trotoar maupun jembatan penyeberangan. Di kota besar Indonesia fasilitas pejalan kaki yang memadai memang masih sangat jauh dari kata baik. Hak para pejalan kaki telah banyak dirampas tanpa bisa berbuat apa-apa. Sepertinya para pejalan kaki di Indonesia saat ini perlu menguasai “ilmu meringankan tubuh” sehingga mampu berjalan di udara tanpa ada gangguan dari para pengendara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s