Saya yang membangun budaya korupsi

“KORUPSI” dalam kurun waktu dekade ini menjadi kata-kata yang tidak asing bagi bangsa ini. Korupsi yang sangat mengakar dan menjadi budaya baik secara latent maupun langsung terlihat sangat jelas dalam dinamika bermasyarakat dan berbangsa. Tidak sedikit kasus-kasus kelas kakap hingga kelas teri yang mulai terkuak dalam beberapa kurun waktu ini sebagai cerminan usaha untuk mengurangi atau lebih ekstremnya menghapus korupsi di dalam bangsa ini. Mulai dari kalangan para dewan yang terhormat atau yang sering kita sebut sebagai wakil rakyat, para pemimpin atau pejabat negara dari berbagai institusi, sampai kalangan masyarakat sendiri yang tidak menutup kemungkinan sedikit banyaknya baik secara disadari maupun tidak perilaku korupsi diaplikasikan dalam kondisi maupun tuntutan tertentu.

Satu hal yang seringkali dijadikan dasar rasionalisasi bagi kita semua untuk “menghalalkan” perilaku korupsi itu sendiri yaitu, korupsi sudah tersistem dan susah untuk dihilangkan. Korupsi sudah mengakar dalam budaya kita sehingga dirasa mencerabut akar korupsi itu dirasa membutuhkan suatu usaha yang sangat keras. Yang mana, rasionalisasi-rasionalisasi tersebut seperti halnya mengkambinghitamkan “budaya” maupun “sistem” yang dalam realitasnya adalah faktor eksternal tanpa kita menyadari bahwa faktor-faktor tersebut dalam realitasnya merupakan produk-produk akibat faktor internal sendiri yaitu keberadaan dan fungsi individu tersebut.

Budaya korupsi
Seperti halnya kita pahami budaya tidak akan terlepas dari proses kehidupan yang dijalani oleh seorang individu. Budaya memiliki banyak dimensi sesuai dengan kajian keilmuan yang menjadi acuan. Akan tetapi bisa dipahami pada dasarnya budaya merupakan produk yang dihasilkan akan keberadaan manusia. Smolka (2000) menjelaskan bahwa konsep tersebut menggambarkan keberadaan budaya yang berawal dari proses perkembangan manusia itu sendiri. Dalam perkembangannya tersebut manusia menjalani sebuah dinamika yang tidak terlepas dari hubungan antar sesama serta praktik-praktik yang bersifat sosial.  Dengan adanya situasi tersebut maka terciptalah produk-produk sosial yang bisa kita pahami sebagai nilai, kesepakatan, tatanan dalam hidup maupun sistem beliefs yang mengikat para individu yang terlibat dalam proses praktik-praktik sosial tersebut.

Mencoba mengembangkan dinamika keterkaitan korupsi dengan budaya tersebut tidak ada salahnya kita mencoba melihat pernyataan yang dikembangkan oleh Lehman, Chui dan Schaller (2004) mengenai hubungan antara proses psikologis yang membentuk perilaku tertentu dan budaya. Dalam pandangan ini dijelaskan bahwasanya keterkaitan antara proses psikologis dan budaya sangatlah erat. Proses psikologis pada dasarnya dapat membentuk budaya tertentu. Begitu juga bahwasanya budaya dapat mempengaruhi terhadap proses psikologis yang ada dalam diri individu.

Proses psikologis dalam hal ini akan melibatkan proses kognitif, afektif maupun konatif sehingga teraplikasikan dalam bentuk persepsi serta sikap yang berujung pada suatu perilaku tertentu. Oleh sebab itu dalam hal ini tidak salah sekiranya konsep yang dikembangkan oleh Lehman, Chui dan Schaller (2004) dapat menjadi rujukan dasar dalam menjelaskan lebih lanjut dinamika terbentuknya budaya korupsi yaitu berawal dari persepsi maupun sikap kita yang disadari atau tidak secara terus menerus melegalkan maupun menganggap wajar suatu perilaku korupsi. Pada akhirnya ketika budaya korupsi tersebut mulai menguat maka akan memberikan pengaruh terhadap proses persepsi dan sikap yang dimunculkan oleh seseorang untuk melegalkan korupsi juga.

Memutuskan rantai korupsi
Menyadari bahwasanya rantai pembentukan budaya korupsi yang berawal dari proses persepsi dan sikap yang diproses secara personal dalam diri ini maka sudah saatnya kita mulai menguatkan nilai-nilai moral kehidupan yang menjadi rujukan dalam berperilaku. Dalam hal ini menjadikan nilai moral sebagai garda depan, visi dalam kehidupan maupun menjadi pertimbangan dalam proses persepsi dan sikap. Nilai moral harus menjadi pemahaman dan sikap dalam diri bahwa korupsi itu tidak dibenarkan. Dengan landasan moral tersebut maka rasa malu akan muncul untuk tidak melakukan tindakan korupsi. Integritas juga dijadikan sebagai landasan bagi semua perilaku yang dimunculkan dan merupakan nilai yang tidak pernah ditinggalkan hingga menyadari bahwa semua bentuk perilaku kita nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Pada akhirnya, ketika nilai-nilai moral yang mengarah pada kebajikan menjadi dasar persepsi serta sikap kita dalam kehidupan sehari-hari maka sangatlah mungkin rantai budaya maupun sistem korupsi akan terkikis secara sendirinya. Hal ini dikarenakan kita sebagai individu tidak lagi bersandar terhadap persepsi dan sikap yang pro dan mewajarkan korupsi.

Sudah saatnya kita tidak lagi menyalahkan suatu sistem maupun budaya sebagai kambing hitam. Kita harus mulai menyadari bahwa kita secara pribadi inilah yang dalam realitasnya menjadi penyebab utama di dalam membentuk budaya itu sendiri. Kesadaran seperti halnya tersebut harus mulai kita pahami dan tekankan dalam diri apakah kita siap untuk melakukan sikat habis untuk korupsi dengan mengarahkan pada kondisi internal diri sendiri? Sehingga tidak salah konsep dimulai dari diri sendiri merupakan solusi mujarab yang sangat mungkin untuk menghadapi korupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s