Apatisme dalam bernegara dan kepemimpinan

Negara seharusnya menjadi payung besar yang akan melindungi keberadaan rakyat yang ada di bawahnya. Begitu juga bahwa negara seharusnya menjadi rumah yang memberikan kenyamanan dan keamanan di dalamnya. Akan tetapi tujuan utama dalam pembentukan negara seperti halnya di dalam negeri ini tersebut hanya bisa menjadi kaidah konsep dan angan-angan. Fungsi negara saat ini mengalami penurunan yang tidak terelakkan.

Rakyat tidak lagi mendapatkan fungsi kenyamanan, keamanan maupun perlindungan yang cukup nyata oleh negara. Negara saat ini tidak menghadirkan fungsi-fungsi yang seharusnya dengan baik. Realitas negara saat ini terlihat rapuh dan terlihat tidak bisa diandalkan untuk kelangsungan kehidupan berkelanjutan yang baik untuk masa ke depan.

Keraguan-keraguan terhadap negara ini tidak salah sekiranya terlihat dari bertubi-tubinya permasalahan dalam negeri ini yang tidak kunjung selesai. Begitupun alih-alih menginginkan penyelesaian malah tidak jarang menjadi abu-abu karena banyaknya permainan-permainan para sutradara-sutradara kekuasaan. Situasi nyata ini menjadi stimulan yang menjengahkan. Hukum di satu sisi masih terlalu menyolok melakukan main mata terhadap kasus-kasus yang terkait dengan para penguasa maupun para kerabat dan koleganya. Pada kondisi yang lain hukum tidak mampu menjadi alat pengontrol akan banyaknya kekerasan-kekerasan yang terjadi dalam masyarakat saat ini. Begitu juga korupsi masih menjadi lahan pekerjaan yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan pencurian-pencurian kelas maling ayam. Realitas inilah yang sekiranya digambarkan zaman edan, siapa yang tidak ikut edan tidak akan mendapatkan jatah. Siapa yang berjalan dengan idealisme maka akan jatuh karena kondisi yang edan tersebut.

Apatisme sebagai bentuk reaksi

Kondisi yang secara terus menerus hanya diperkuat dengan berita-berita kebobrokan sistem maupun pelaku sistem, kegagalan cita-cita akan hukum di atas segalanya, maupun permainan-permainan sandiwara para aktor dan sutradara penguasa negeri ini menjadikan pandangan yang melelahkan. Lebih miris lagi bahwa kondisi-kondisi tersebut tidak jarang terjadi di pusat pemerintahan negeri ini. Hal ini layaknya memberikan penyakit menular ke daerah-daerah terkait logika yang berjalan.

Lebih jauh situasi tersebut cukup menjadi pemicu bahwa bangsa ini seperti hopeless. Layaknya tidak adanya harapan dengan melihat kerusakan sistem dalam berbagai bidang di negeri ini yang dapat memunculkan apatisme tersendiri. Padahal jika kita sadari, kemajuan suatu negara salah satunya akan adanya pergerakan kolektif yang dilakukan oleh rakyat untuk membangun kemajuan itu sendiri. Rakyat sendiri menjadi motor penggerak yang harus dapat diberdayakan dengan tepat. Akan tetapi sepertinya hal tersebut tidaklah mudah jika rakyat sendiri dipayungi dengan keresahan, ketidakadilan, hingga ancaman akan kesejahteraan. Payung-payung tersebut dalam realitasnya dapat menjadi bentuk penguat akan keengganan untuk memikirkan, bertindak maupun memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan negeri ke depan.

Apatisme ini didorong dengan pertanyaan apakah masih perlu kita memiliki idealisme terbaik untuk memperbaiki negeri ini, jika sistem yang berjalan hanya manipulasi hingga kontradiksi yang dimainkan oleh para pemilik kekuasaan? Apakah perlu memikirkan “apa yang sudah kita berikan ke negara, dibanding apa yang sudah negara berikan ke kita?”. Tuntutan-tuntutan, himbauan-himbauan hingga harapan yang diarahkan pada rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa ini pada dasarnya bisa saja di pandang sebelah mata sebagai hal yang tidak penting. Kondisi tersebut serta merta sudah sangat dimungkinkan akibat perasaan tidak percaya dengan situasi negara saat ini yang tidak kunjung sembuh dari penyakit “edannya”.

Kuncinya di kepemimpinan

Perlu adanya pemantik yang menumbuhkan harapan itu kembali muncul dalam logika-logika yang pesimis di dalam melihat perkembangan negeri ini. Harapan terbaik yang dimiliki saat ini terletak dalam gambaran seorang pemimpin. Mengapa seorang pemimpin? Hal ini mendasarkan pada keberadaan seorang pemimpin untuk membentuk pengaruh di dalam memberikan perbedaan, yang memiliki suatu otoritas membuat keputusan-keputusan berarti dalam perubahan itu sendiri menuju kearah yang lebih baik.

Negeri ini menuntut keberadaan seseorang dengan visi kepemimpinan yaitu:
Pertama, seseorang yang mampu menjadi seorang problem solver dari suatu dinamika permasalahan negara, bukan malah menjadi problem maker dengan berbagai keraguan-keraguan dan pandangan yang sifatnya ambigu.

Kedua, seseorang yang mampu memberikan contoh integritas yang kuat di dalam membangun pola maupun sistem negara yang mendasarkan keadilan dan kesamaan dalam hukum hingga anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Konteks searah antara kata dan perbuatan menjadi hal yang sangat penting untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang dipercaya. Bukan malah menjadi sosok yang terlihat mencla mencle karena terlalu banyak mempertimbangkan kondisi-kondisi yang terlihat malah seperti orang linglung dan tidak tegas terhadap apa yang dihadapinya.

Ketiga, seseorang yang menganggap dirinya adalah pelayan bagi rakyat dan bukan malah sebaliknya sebagai seorang raja bagi rakyatnya. Dengan menganggap dirinya sebagai seorang pelayan rakyatnya maka individu tersebut akan bekerja dengan melandaskan pada tujuan kesejahteraan, kemajuan, kebaikan hingga kenyamanan bagi rakyatnya. Seseorang dengan visi seperti ini pada dasarnya akan mempertahankan kedudukannya hanya sebagai seorang pemimpin bukan sebagai penguasa.

Keempat, seseorang dengan gambaran mental yang kuat. Pemimpin seperti halnya tersebut akan terlihat sebagai seorang sosok yang gagah dan tidak mengenal takut. Mental seorang pemimpin sangat dibutuhkan untuk menghadapi permasalahan apapun yang kaitannya dengan keputusan final yang akan diambilnya nanti. Mental menjadi tameng bagi seorang pemimpin untuk terus bergelut dengan berbagai permasalahan yang ada di dalam negara ini. Tidak perlu menggambarkan seorang pemimpin yang teraniaya, karena sama seperti halnya mengidentifikasikan dirinya sebagai seseorang yang tidak bermental pemimpin.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang seperti halnya di atas bisa menjadikan kunci jawaban untuk menghancurkan apatisme yang mungkin saja sudah terjadi di masyarakat. Pemimpin menjadi titik sentral yang bisa menularkan pengaruhnya ke seluruh sisi bagian di masyarakat sehingga membentuk optimisme kolektif. Hal ini diakibatkan dengan terbentuknya kepercayaan dari rakyat terhadap pemimpinnya bahwa negara ini bisa berjalan dan berkembang ke arah yang lebih baik serta merasa memiliki seseorang yang dapat digantungkan akan harapan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s