Plat kuning hati-hati (Seri “parodi lalu lintas jalanan”).

Pada suatu waktu terjadi obrolan ringan antara salah seorang mahasiswa dengan seorang sopir angkutan kota di suatu daerah yang sebut saja dengan kota X. Obrolan ringan khas ini juga diselingi dengan berbagai keluhan yang tidak salah sekiranya dilontarkan oleh para profesi pengemudi ini. Begini ceritanya:

Mahasiswa : Pripun pak rame penumpang? (terjemahan bebas: Bagaimana pak ramai penumpang?)

Sopir : Yo koyo niki mawon mas. Angel entuke…ora esuk, awan sore angel goleke. Wes ora koyo jaman mbiyen. (Terjemahan bebas: Ya seperti ini saja mas. Susah mendapatkannya. Baik pagi, siang, sore susah mencarinya. Sudah tidak seperti jaman dulu.)

Mahasiswa : Lah pripun niku pak? (Terjemahan bebas: Bagaimana itu pak?)

Sopir : Lah kan wes ketok mas saiki. Akehe ora njamak jumlah angkot saiki. Wes ngono akeh kendaraan pribadi khususe motor. Entuk motor saiki gampang. Dadine sing biasa numpang angkot saiki do numpak motor kabeh. (Terjemahan bebas: Kan sudah terlihat sekarang mas. Banyak sekali jumlah angkutan sekarang ini. Sudah begitu banyak sekali kendaraan pribadi khususnya motor. Mendapatkan motor sekarang mudah. Sehingga yang biasanya naik angkutan sekarang naik motor.)

Mahasiswa : Rebutan penumpang berarti niki pak antar sopir? (Terjemahan bebas: Berebut penumpang antar para sopir berarti ini pak?).

Sopir : Yo nggeh. Bade pripun maleh, niku nggeh pun biasa. (Terjemahan bebas: Ya iya. Mau bagaimana lagi, itu juga sudah biasa.)

Mahasiswa : Mboten pernah diprotes kaleh pengendara liyane niku pak? (Terjemahan bebas: Tidak pernah diprotes oleh pengendara yang lain pak?)

Sopir : Nggeh wonten, jenenge wae angkot yo biasa. Kadang-kadang sing protes niku kurang menyadari nek niki plat kuning. Intine sopir-sopir pribadi niku kurang menyadari. Seharuse angkot ojo dipeluni mburine. Nek dipeluni mburine pasti ngerem mendadak. Soale angkot wes jukuk jalur pinggir. Dadi nek diikuti mburine ngei sen langsung ngerem. Sing jelas kudu iso mbedake iki plat kuning, plat iki kuning ga iso diganggu gugat plat iki kuning umum. Nek dijupuk kirine kekepot ojo disalahke. (Terjemahan bebas: Iya ada, namanya juga angkutan ya biasa. Kadang-kadang yang protes itu kurang menyadari kalau ini adalah plat kuning. Intinya sopir-sopir pribadi itu kurang menyadari. Seharusnya angkutan jangan diikuti belakangnya. Kalau diikuti belakangnya pasti mengerem mendadak. Karena angkutan sudah mengambil jalur yang di pinggir. Jadi kalau diikuti belakangnya memberikan lampu sen langsung mengerem. Yang jelas harus bisa membedakan ini plat kuning, plat ini kuning tidak bisa diganggu gugat plat ini kuning umum. Kalau diambil kirinya keserempet jangan disalahkan.)

Apakah ada keganjilan dalam pembicaraan di atas? Jika kita mencoba untuk lebih memahami kondisi perbincangan tersebut kita akan menemukan suatu alur pelanggaran berlalu lintas yang “dibenarkan”. Bagaimana tidak, bahwa secara jelas para sopir angkot merasa perilaku berkendara yang mengkhawatirkan adalah hal yang wajar. Malahan para pengendara lain diminta untuk lebih menyadari bahwa mobil yang memiliki plat kuning memiliki “hak istimewa”, yaitu dengan tidak bisa diganggu gugatnya perilaku berkendara yang cukup membahayakan dilakukan terkait dengan keberadaan dan untuk mendapatkan penumpang baik dengan berebut antar sesama sopir maupun berhenti dengan tiba-tiba dan dimana saja.
Selain hal tersebut, dalam realitasnya permasalahan angkutan umum di negara ini tidak hanya perilaku berkendara terkait dengan rebutan penumpang saja. Pelanggaran-pelanggaran lain yang tidak kalah seringnya kita ketahui di jalanan. Apakah itu berhenti secara mendadak dengan menaikkan atau menurunkan penumpang, berhenti tidak pada tempatnya sehingga tidak jarang menyebabkan kemacetan, pelanggaran lampu lalu lintas maupun bentuk pelanggaran yang lainnya.

Jika harus dibenturkan dengan logika hukum atas perilaku berkendara sopir angkot tersebut maka tidak ada jawaban lain dan tidak bukan adalah suatu kesalahan. Hal tersebut sangat jelas dijabarkan melalui undang-undang no 22 tahun 2009 pasal 105 mengenai tata cara bagi para pengguna jalan secara umum yang diharuskan berperilaku tertib serta mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan dalam berlalu lintas.

Akan tetapi apakah melihat permasalahan kepatuhan dalam berkendara para sopir angkutan umum hanya melalui sudut pandang hukum saja? Sepertinya kalau hanya melalui teropong hukum kita cuma akan mendapati salah dan benar tanpa bisa mengetahui bagaimana akar permasalahan ini menjalar dan tertanam. Pilih mana? “Lapar” karena patuh atau “Kenyang” karena melanggar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s