Lampu Kuning=Ngebut (Seri “parodi lalu lintas jalanan”)

Pernah mengalami suatu kejadian dimana saat kita mencoba untuk menjadi seorang yang patuh terhadap peraturan malah menjadikan kita dalam posisi yang bersalah? Di bawah ini terdapat kisah yang nyata percekcokan antara dua pasang sejoli terkait permasalahan peraturan khususnya lampu lalu lintas ini.
Dikisahkan sepasang sejoli yaitu Tini dan Tono sedang melakukan aktivitas liburannya dengan mengendarai sepeda motornya. Canda tawa mengiringi perjalanan yang sedang dilakukannya tersebut. Pada suatu ketika dalam perjalanan saat akan melintasi lampu lalu lintas, si Tono sebagai driver melihat lampu berwarna hijau sehingga mengharuskan dia mempercepat laju motor tersebut. Akan tetapi dalam jarak kurang lebih 50 meter tiba-tiba lampu lalu lintas sudah berubah menjadi kuning dan si Tono berusaha memperlambat laju motornya. Akan tetapi dengan memperlambat laju motornya ini malah menimbulkan percekcokan antara pasangan ini, begini ceritanya:

Si Tini : loh kenapa memperlambat sih, sukanya kok cari
lampu merah! (dengan wajah sedikit cemberut)
Si Tono : lah kan udah lampu kuning.
Si Tini : makanya masih kuning itu harusnya ya dipercepat
supaya ga kena lampu merah lagi. Sukanya kok lampu
merah.
Si Tono : lah gimana sih, yang namanya lampu kuning kan
memang harusnya pelan-pelan kan (mencoba lebih
sabar menjelaskan).
Si Tini : terserahlah (dengan nada kesal dan malas)…

Terkait permasalahan yang ada di atas kajian kita saat ini bukanlah apa yang akan terjadi dengan pasangan sejoli tersebut. Karena sangatlah jelas kita tidak sedang membuat novel dengan alur dramatisasi cinta. Melihat situasi sebelumnya, kita mencoba untuk memahami bagaimana alur situasi keblinger yang sedang terjadi. Kita pahami dan tidak bisa kita pungkiri bahwasanya sejak masih mengenyam pendidikan kanak-kanak hingga kini pun peraturan mengenai keberadaan lampu lalu lintas sebagai salah satu elemen pengatur gerak lalu lintas tidak mengalami perubahan dalam warna yang ada. Kita hanya mengenal 3 macam warna yaitu merah, kuning dan hijaui dimana merah menandakan untuk berhenti, kuning menandakan kita untuk memperlambat laju kendaraan karena siap untuk berhenti serta hijau menandakan untuk mempersilahkan menjalankan laju kendaraan.

Hingga saat ini pun kita meyakini bahwasanya tidak ada perundang-undangan terbaru yang memberikan klaim makna warna kuning dalam lampu lalu lintas adalah mempercepat laju kendaraan. Situasi tersebut seharusnya tidak dibenarkan secara hukum yang berlaku. Akan tetapi tren mempercepat kendaraan saat lampu kuning menjadi perilaku yang seringkali dilakukan oleh sebagian besar para pengendara. Dimana situasi tersebut pada kenyataannya menjadikan orang-orang yang berusaha untuk mematuhi aturan untuk memperlambat menjadi pihak yang bersalah karena diposisikan sebagai orang yang menghalangi perjalanan.

Hal ini pada dasarnya memiliki efek yang bisa berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Kita ketahui bahwasanya lampu kuning ini pada dasarnya merupakan proses transisi munculnya lampu merah. Situasi tersebut pada kenyataanya dapat memberikan efek yang berbahaya di jalanan. Dengan memaksakan laju kendaraan dalam situasi seperti ini dapat menyebabkan kecelakaan dengan kendaraan dari sisi lain yang pada saat itu juga menjalankan kendaraannya karena lampu sudah hijau. Selain efek maksimal yang berbahaya tersebut, maka perilaku layaknya seperti halnya tersebut dapat menjadikan arus lalu lintas menjadi kacau.
Mencoba untuk melihat lebih jauh mengenai pertimbangan para pengendara di dalam munculnya suatu perilaku yang mengarah pada risiko dalam berkendara seperti halnya dijabarkan oleh Forward (2008) didasarkan pada 2 bentuk konsep risiko yaitu:

a. Objective risk: Probabilitas secara objektif yang terkait dengan data statistik terhadap gambaran tingkat kecelakaan yang telah terjadi.
b. Subjective risk: Perhitungan secara subyektif sebagai hasil pengolahan proses kognitif atas kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Pada dasarnya munculnya persepsi dalam diri seorang pengendara terkait dengan resiko di dalam berkendara khususnya terkait dengan bagaimana individu merasakan bahwa dirinya dapat mengalami risiko suatu kecelakaan di dalam berkendara tidak hanya didasarkan pada gambaran risiko yang didasarkan atas statistik kecelakaan yang sudah ada. Dinamika seperti halnya tersebut dijelaskan oleh Groeger dan Brown (Forward, 2008) memang benar adanya bahwa pertimbangan risiko statistik bisa saja mempengaruhi pertimbangan risiko secara subyektif, tetapi para pengendara juga tidak jarang mengkomparasikannya dengan perhitungan terkait skill maupun kemampuan berkendara yang dimiliki. Bisa saja gambaran statistik tersebut hanya menjadi alarm awal yang sebatas menjadi pengetahuan tetapi bukan dasar pertimbangan kuat untuk menghindari risiko-risiko di dalam berkendara karena dirinya merasa mampu dan memiliki kemampuan layaknya “Valentino Rossi”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s