Para pemimpin (Indonesia) cenderung susah untuk mengerti, memahami, apalagi merasakan sebagai rakyat.

Berbicara mengenai keberadaan pemimpin tidak akan terlepas dengan adanya kritik terhadap keberadaannya. Kondisi tersebut adalah dinamika yang alami di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada negara yang dikatakan menganut sistem demokrasi. Berbicara adalah hak dan tidak bisa dibungkam layaknya pada rezim-rezim sebelumnya. Kebebasan berbicara dalam realitasnya saat ini terlihat sangat keras terhadap keberadaan para pemimpin yang dinilai tidak layak dan tidak mengerti akan kondisi yang dialami oleh rakyatnya. Hal ini tidaklah salah jikalau kita melihat bahwasanya kemiskinan masih melilit kehidupan, kelaparan masih terjadi di sudut-sudut daerah, kesejahteraan hanya mampu diperuntukkan bagi orang-orang berduit sehingga kondisi-kondisi tersebut menjadi indikator ketidakpercayaan terhadap para pemimpin.

Para pemimpin bangsa ini dalam realitasnya telah ditunjuk oleh para rakyat melalui sistem-sistem demokrasi yang kita kenal dengan pemilihan umum. Pemilihan yang secara dinamikanya menggambarkan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jelas bahwasanya sistem demokrasi pemilihan umum ini hanya mampu menggambarkan 2 hal hingga saat ini yaitu dari rakyat dan oleh rakyat tetapi tidak untuk rakyat. Dengan gambaran seperti halnya kemiskinan, kelaparan, maupun situasi prasejahtera yang masih terus menerus menjadi santapan keseharian jadi tidak salah gambaran untuk rakyat masih hanya dalam batas pemberian mimpi di siang bolong.

Mimpi, inilah yang seringkali menjadi senjata pamungkas para pemimpin untuk membodohi para rakyat yang memberikan harapan kesejahteraan kehidupan. Berawal dari usaha untuk mendapatkan suara hingga melanggengkan kekuasaan hanyalah mimpi yang diberikan. Rakyat hanya diberikan mimpi bahwasanya para pemimpin mengerti dengan kondisi yang sebenarnya terjadi pada rakyat.

Apakah para pemimpin negeri ini mencoba berinteraksi turun ke daerah-daerah miskin merasakan kesengsaraan rakyat? Menggelar acara makan bersama dengan para pengayuh becak menggambarkan mereka bisa merasakan beratnya kehidupan rakyat? Slogan bekerja untuk rakyat maupun kata-kata wong cilik menjadikan mereka benar-benar sebagai pihak yang memahami rakyat? Jawabannya bisa dengan sangat jelas adalah tidak. Para pemimpin cenderung belum mampu mengerti, memahami apalagi merasakan dalam posisi sebagai rakyat.

Bagaimana mereka bisa mengerti saat tidak sedikit rakyat banyak yang kelaparan para pemimpin masih bisa menikmati makanan lebih dari cukup. Bagaimana bisa dikatakan memahami saat para rakyat tidur dengan perut lapar dan tidak begitu dengan para pemimpin negeri ini. Bagaimana bisa mengerti saat para pemimpin di satu sisi tidak bisa menggambarkan kesederhanaan akan tetapi selalu dikelilingi dengan kemewahan. Bagaimana bisa dikatakan mengerti saat para pemimpin sudah tidak bisa merasakan panasnya matahari seperti para rakyatnya. Bagaimana bisa merasakan jikalau para pemimpin saja tidak bisa mengerti atau memahami rakyatnya.

Tidaklah berlebihan kritikan seperti halnya tersebut kepada para pemimpin bangsa ini. Pemimpin bangsa ini dalam realitasnya tidak memiliki jati diri sebagai seorang pemimpin yang baik. Hanya berisikan kesan-kesan yang diinginkan bahwasanya mereka mengerti, memahami dan merasakan atas apa yang dirasakan oleh rakyat. Konsep ini sangat jelas digambarkan dengan salah satu pendekatan bahwasanya manusia akan bertindak dan terbentuk sesuai dengan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Lingkungan para pemimpin hanyalah lingkungan yang penuh dengan gemerlap kemewahan, kemudahan hingga ketersediaan. Para pemimpin tidak akan terlepas dengan kata dilayani dalam keseharian kehidupan. Sehingga mereka lupa bagaimana caranya melayani khususnya untuk rakyat. Kondisi inilah yang pada dasarnya menjadi faktor penguat yang memberikan kecenderungan menumpulkan rasa bagi para pemimpin yang sekiranya kemewahan, kemudahan, ketersediaan tidak dimiliki oleh sebagian besar rakyat.

Inilah realitas yang sesungguhnya terjadi dan tidak mampu dihindari oleh para pemimpin Indonesia saat ini. Ironisnya mereka sendiri tidak mampu memberikan counter dengan bijaksana terhadap segala kondisi-kondisi yang menumpulkan rasa mereka sebagai seorang pemimpin. Karena harus kita sadari bahwasanya penyebab munculnya perilaku tidak hanya karena faktor secara eksternal akan tetapi merupakan hasil interaksi terhadap faktor internal dalam diri (Ancok, 2004). Saat situasi kemewahan yang diberikan kepada para pemimpin tidak sanggup dihadapi dengan kearifan kepribadian internal para pemimpin, maka jangan pernah mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mengerti, memahami apalagi mampu merasakan kondisi yang dialami oleh rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s