“Nek Ora Melu Edan Ora Keduman”

Jayabaya, itulah yang pertama kali muncul mengenai petikan kata “nek ora melu edan ora keduman”. Seorang sastrawan besar yang pernah dimiliki oleh Jawa. Secara garis besar bahwasanya dalam “ramalan” yang pernah dimunculkan oleh Jayabaya ini menyiratkan bahwa nanti akan ada suatu masa dimana orang-orang akan bersikap dan berperilaku yang keliru. Kekeliruan tersebut akan menjadi “kebenaran” untuk sebagian besar orang saat itu. Kebaikan, idealisme, kejujuran, menjadi barang yang langka atau mungkin agak susah untuk menemuinya. Itulah zaman dimana jika kita tidak mengikuti keburukan yang sudah mengakar dan tersistem maka kita dirasa tidak akan bisa mendapatkan “jatah” duniawi yang ada.

Catatan ini hanya sebatas goresan kekecewaan yang powerless, dengan batas akhir hanya bisa melihat, merasakan, dan mencoba untuk membangun keyakinan idealisme tersendiri. Hal ini menjadi ketidakberuntungan bagi sebagian orang yang merasa bahwa sudah terlalu banyak pergerakan ke arah merusak. Rusak dalam persepsi, sikap dan perilaku. Persepsi bahwasanya untuk saat ini mencari sesuatu dengan jalan yang “lurus” sudah susah atau “joke” mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal. Kekayaan akan suatu kearifan dalam memagari situasi yang semrawut saat ini hanya sebagai pemanis teori dan tidak mampu menjadi pengenyang perut, keinginan, eksistensi, pengakuan publik atau sejenisnya.

Terlalu banyak peristiwa yang mengecewakan dalam kaidah-kaidah idealisme kejujuran. Terlalu banyak topeng sebagai penutup akan kecacatan wajah, hati maupun perilaku. Terlalu dalam akar jalan pintas plus instan  untuk mencapai tujuan. Terlalu massive konsep menghalalkan segala cara. Terlalu banyak hujatan saat merasa kukuh dengan idealisme yang seharusnya. Membutuhkan kekebalan akan kemampuan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan, dan pada akhirnya logika dan nurani untuk memutuskan. Terlalu banyak “materi Tuhan” yang tercipta dalam abad ini melalui harta, jabatan maupun pangkat.

Hanya orang-orang yang kurang cerdas ketika seringkali memberikan pandangan miring terhadap orang-orang yang memiliki kecenderungan idealisme akan kejujuran itu sendiri. Bukankah anda juga memiliki “paham yang ideal” sesuai dengan cara berpikir anda? Meskipun memiliki arah yang tidak sejalan dan bersifat kontra. Terlepas apakah keadaan di dunia ini akan menjadi lebih baik atau tidak ke depan nantinya, konsep nek ora melu edan ora keduman hanyalah sebuah pilihan. Pilihan akan selalu diakhiri dengan konsekuensi akan pertanggungjawaban. Dunia memang tidak adil karena memang itulah dunia, jadi silahkan menikmati dan menghadapi ketidakadilan itu sendiri dengan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s