Anak-anak Modern. (Seri “parodi lalu lintas jalanan”)

Perkembangan pengguna kendaraan bermotor hingga saat ini sepertinya menunjukkan sebuah perubahan yang cukup aneh. Bagaimana tidak, keanehan ini terkait dengan adanya situasi yang sepertinya perlu diluruskan di jalanan saat ini. Situasi ini tidak terlepas dengan keberadaan anak-anak modern (kalau boleh dikatakan) yang seharusnya belum pada saatnya diposisikan sebagai pemakai kendaraan bermotor. Kondisi ini mulai sering terlihat sebagai pandangan yang biasa saat ini yaitu keberadaan anak-anak dengan kisaran umur 12-14 tahun dengan bebasnya mengendarai sepeda motor di jalanan baik jalan raya maupun di jalan daerah perumahan. Situasi ini jauh berbeda saat 10 atau 20 tahun yang lalu dimana anak-anak berkendara seperti halnya tersebut tidak menjadi pandangan yang biasa terlihat.

Anak-anak seperti halnya mencoba menjelaskan situasi tersebut dalam sisi manapun pastinya akan memberikan penekanan yang jelas bahwasanya anak-anak belum saatnya dan tidak layak untuk diberikan hak untuk mengendarai sepeda motor. Salah satu penekanan yang terlihat dalam ranah hukum sangatlah jelas. Berdasarkan pada undang-undang no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan sudah sangat jelas dalam pengaturan standarisasi umur pemakaian kendaraan bermotor.

Seperti kita ketahui bahwasanya sistematika seseorang dapat diperbolehkan untuk mengendarai kendaraan bermotor diawali dengan mengantongi surat ijin mengemudi yang sesuai dengan jenis kendaraan. Dengan keberadaan surat ijin inipun posisi anak-anak sudah menyalahi aturan yang berlaku. Pemberlakuan batas minimal umur dalam memperoleh surat ijin mengemudi dengan jenis kendaraan sepeda motor sangat jelas yaitu 17 tahun. Sehingga keberadaan anak yang mengendarai sepeda motor dengan kisaran umur 12-14 tahun ini pun sangat jelas-jelas menyalahi aturan secara hukum.

Selain adanya pelanggaran terhadap ranah hukum terhadap keberadaan anak-anak modern saat ini, maka ada hal yang lebih penting dengan situasi dimana anak sudah diberikan fasilitas yang kurang tepat. Posisi orangtua sebagai pihak yang memiliki fungsi otoritas terhadap anak seharusnya bisa lebih bijak di dalam memberikan ijin dalam berkendara. Pemberian ijin dalam mengendarai sepeda motor bagi anak-anak merupakan bentuk keteledoran orangtua terhadap keselamatan anak itu sendiri. Beberapa hal mengancam jiwa anak saat dirinya mengendarai sepeda motor di jalanan.

Seperti halnya digambarkan oleh Sun, Benehokal dan Estrada (2008) bahwasanya permasalahan-permasalahan yang dapat muncul akibat perilaku berkendara para young drivers dalam hal ini ada 2 hal penting yaitu:

Pertama, mereka merupakan kalangan yang kurang matang dan miskin pengalaman dalam hal berkendara. Dibandingkan dengan para pengendara yang sudah kawakan dan memiliki jam terbang tinggi maka kecenderungannya lemah di dalam mengenali situasi yang beresiko maupun dalam melakukan kontrol yang benar terhadap kendaraan tersebut saat dihadapkan dengan situasi yang beresiko. Kemampuan yang dilihat dalam sudut pandang fisik maupun motorik inilah yang secara nyata bisa dilihat bahwasanya anak-anak belum saatnya untuk berkendara. Kondisi ini sangat memungkinkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik pengendara itu sendiri maupun pihak pemakai jalan yang lain.

Kedua, dengan mendasarkan pada perkembangan psikologis tersendiri mereka belumlah masuk dalam kategori kematangan dan mereka cenderung melihat suatu resiko hanya dengan mendasarkan penilaian kepentingan pribadi dan tidak mampu melakukan pertimbangan maupun pemikiran atas konsekuensi yang berbahaya atas suatu resiko yang bisa dimunculkan akibat perilaku berkendaranya. Salah satu bentuk contoh yang nyata bahwasanya para pengendara-pengendara yang masih muda ini cenderung menyukai berkendara dengan kecepatan yang tinggi.

Menyadari akan “masih hijaunya” baik secara psikologis maupun pengalaman dalam berkendara maka dalam hal ini diperlukan suatu pengontrol yang tepat. Dalam hal ini sekali lagi peran orangtua sangatlah penting. Orangtua memiliki otoritas penuh di dalam memberikan pemahaman dan batasan yang sesuai. Keselamatan anak merupakan hal yang penting untuk disadari oleh para orangtua saat ini. berkendara di jalanan bukanlah seperti layaknya bermain game yang mungkin saja diasosiasikan anak-anak saat mengendarai kendaraan tersebut.

Layaknya memberikan penghakiman secara langsung yang mendasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya suatu kecelakaan menurut Lester (Semin dan Fiedler, 1996) bahwasanya anak-anak memiliki kekurangan pada area psikomotor, kemampuan perseptual, kemampuan secara kognitif, tingkat perkiraan, kepribadian maupun sikap dalam perilaku berkendara. Jangan sampai menyesal bagi para orangtua saat memberikan ijin berkendara bagi anak-anak yang “masih hijau” baik secara fisik dan psikologis yang hanya melihat pada perubahan teknologi pada zaman yang kurang waras saat ini.

One thought on “Anak-anak Modern. (Seri “parodi lalu lintas jalanan”)

  1. Ping-balik: Bijak Memberi Izin Anak Berkendara | bijak.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s