Saat Nasionalis…

Belum hilang dari ingatan kita akan gesekan permasalahan yang kembali melanda negeri Indonesia ini dengan negara seberang Malaysia beberapa waktu yang lalu. Permasalahan pelanggaran teritori yang terkait dengan penangkapan anggota DKP oleh polisi Malaysia kembali mengingatkan akan gesekan-gesekan sebelumnya yang sudah terjadi dengan negara tersebut. Bukan suatu permasalahan baru bagi rakyat kita saat gesekan menuju konflik terkait dengan Malaysia ini kembali lagi dihadapkan dengan kita. Masih ingat dalam pengetahuan sejarah kita bahwasanya proklamator bangsa ini mengenalkan kita dengan ganyang malaysianya. Sebagai rasa untuk mempertahankan kedaulatan dalam menjaga identitas kebangsaan yaitu Indonesia. Tidak lupa pula bagi memori kita bahwasanya Malaysia mendapatkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam era salah satu presiden kita. Gesekan ini pun kembali muncul dan semakin panjang dengan permasalahan ambalat, keberadaan TKI maupun klaim kebudayan yang kita miliki dalam perjalanan keberadaan dua negara ini.

Seperti halnya sebuah hukum kausalitas yang ada bahwasanya suatu aksi akan memunculkan sebuah reaksi, dalam hal ini tidak sedikit dari anggota bangsa ini bereaksi keras dengan adanya permasalahan tersebut. Maraknya demonstrasi dalam menentang tindakan Malaysia dari berbagai kalangan baik budayawan, mahasiswa, lembaga kemasyarakatan tidak kalah keras dan memberikan tambahan tekanan akan gesekan tersebut menuju dalam konflik yang nyata. Dengung akan pengusiran keluar segala hal yang berbau Makaysia dari negeri ini beberapa kali menjadi topik hangat bagi beberapa kalangan. Pelemparan kedutaan dengan kotoran manusia dan pembakaran bendera Malaysia oleh demonstran menjadi simbol kemarahan yang sudah tidak mampu terkendali. Provokasi-provokasi dari para pengamat tidak lupa menghiasi media-media yang ada. Perilaku-perilaku ini didasari dengan slogan bahwasanya hal ini adalah bagian dari rasa nasionalisme yang berkobar karena karena Malaysia menginjak-injak harkat dan derajat bangsa.

Apakah dibenarkan dalam semangat nasionalisme? Mencoba mengutip dari Searle dan White (2001) yang menjelaskan bahwa nasionalisme dikaitkan dengan identifikasi yang di tekankan pada suatu dasar kesamaan-kesamaan yang ada dalam anggota kelompok. Hal tersebut menggambarkan bahwasanya kesamaan akan sejarah, bahasa, teritori, budaya maupun segala bentuk kombinasi yang bisa muncul dari persamaan-persamaan tersebut. Lebih lanjut bahwasanya sifat yang melekat pada konteks nasionalisme merupakan suatu bentuk identitas dan bentuk afiliasi yang dilakukan terhadap kelompok khususnya pada negara. Pada dasarnya identitas ini digambarkan dengan siapakah kita atau siapa kami dengan adanya sejarah yang dimiliki. Pada sisi lain keberadaan afiliasi terhadap negara ini dimaknai sebagai kumpulan persepsi dan pengalaman hidup yang dijalani bersama dan bersifat khusus bagi kelompok itu sendiri. Kelekatan akan pertalian atau kerjasama terhadap kelompok ini terkait dengan fakta-fakta yang ada dan terdapat di dalam kelompok termasuk suatu bentuk evaluasi bagaimana kelompok ini telah dijalankan, apa yang telah dilakukan dan bagaimana pihak lain dalam memandang kelompok tersebut.

Oleh sebab itu implementasi marah dalam perilaku kecaman dan protes yang dilancarkan merupakan bentuk kewajaran yang muncul saat adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Malaysia dalam teritori, kebudayaan maupun permasalahan TKI. Suatu perasaan bahwa Malaysia tidak memberikan penghormatan yang pantas terhadap identitas teritori yang kita miliki sebagai bagian dari sejarah panjang berdirinya bangsa ini. Seperti halnya hasil sejarah yaitu kebudayaan yang merupakan hak milik yang tidak bisa tergantikan baik dengan pergantian materi sebesar apapun. Pada kondisi lain, permasalahan TKI merupakan bentuk solidaritas terkait dengan sikap identifikasi kita akan persamaan yang ada sebagai satu anggota bangsa.

Apakah nasionalisme seperti itu cukup? Rasanya perlu kita renungkan kembali apa yang mencoba kita pahami sebagai nasionalisme yang baru bisa kita lakukan secara parsial. Nasionalisme yang hanya sebagai bentuk reaksi saat gesekan terjadi ini mencerminkan kekerdilan sikap nasionalisme yang kita miliki saat ini. Apa sebab perihal tersebut? Karena kita tidak mampu menjalankan nasionalisme dengan benar-benar menjaga dan memelihara identitas maupun keberadaan afiliasi sebagai sifat dari nasionalisme itu sendiri. Hal ini membutuhkan kesadaran dari segala pihak baik pemerintah maupun rakyat sebagai bentuk menjaga eksistensi identitas dan kerekatan afiliasi itu sendiri.

Indikasi apa yang kita lihat saat ini bisa kita lihat bahwasanya kita sebagai rakyat tidak mampu menghargai sejarah kita sendiri dengan lebih senang mengenal, belajar maupun dengan bangganya akan sejarah-sejarah bangsa selain Indonesia. Mampukah kita memelihara hasil budaya sendiri dengan seberapa banyak diri kita maupun putra-putri kita yang mengenal, belajar dan bangga akan hasil budaya sendiri? Keluhan seperti apa yang sering keluar dari hati dan mulut kita saat melakukan penghormatan kepada bendera? Masih ingatkah kita tentang lagu-lagu kebangsaan kita? Mampukah kita memahami pancasila dengan baik dan berperilaku pancasilais yang sebenarnya dengan banyaknya konflik yang mengatasnamakan suku, agama maupun kelompok? Seberapa baik pemerintah dalam memimpin, memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya secara merata di seluruh daerah sebagai bentuk meningkatkan afiliasi rakyat terhadap negara ini? Pada akhirnya pertanyaan apakah yang pernah kita berikan pada negara ini dengan tidak selalu mengatakan apa yang telah diberikan negara ini pada kita pernah kita pikirkan? Ini hanyalah pertanyaan-pertanyaan kecil yang mungkin banyak kita lakukan sebagai anak bangsa sehingga menciderai nasionalisme yang sebenarnya.

Inilah renungan bagi kita semua yang merasa bahwa hanya dengan marah maupun provokasi-provokasi merasa mampu menggambarkan nasionalisme yang bisa memelihara identitas sebagai negara yang besar. Nasionalisme masa kita adalah nasionalisme dalam mengisi negara ini dengan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Rasa ini diimplementasikan dengan selalu memberikan yang terbaik bagi negara ini dengan menjaga dan memelihara apa yang dimiliki oleh negara ini dengan kekuatan dan sumberdaya dari putra dan putri bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s