Komunikasi Politik Indonesia

Perpolitikan merupakan pembahasan yang tidak akan ada habisnya dalam dinamika bernegara dan bermasyarakat. Elemen-lemen penggerak dalam perpolitikan memiliki sebuah pengaruh dan efek yang cukup signifikan dalam berfungsinya sistem dinamika politik dalam negeri. komunitas pro dan kontra akan pergerakan politik dalam negeri tidak jarang kita mendengar gaung akan genderang politik. Politik layaknya Sukardi Rinakit menerangkan bahwasanya dilihat dalam kaidahnya sebagai kiat maupun ilmu akan selalu mengiringi dalam pergerakannya. Politik sebagi kiat yang hanya berpangkal pada sebuah usaha mempertahankan maupun meraih kekuasaan dan politik sebagai ilmu yang berpangkal pada kesejahteraan bagi para rakyat akan kita dapati meskipun prosentase kedua sisi tersebut cenderung mengarah pada politik sebagai kiat dalam aplikasinya. Terlepas dari kedua sisi tersebut maka ada hal yang terpenting dalam “meraih goal” dalam perpolitikan. Dalam hal ini komunikasi politik sangat dikedepankan sama halnya untuk memberikan sebuah dimensi informasi dan dimensi tujuan yang berujung pada penilaian rakyat sebagai konsumen politik.

Layaknya tulisan bung Anas dalam “Takdir Demokrasi” yang menyatakan bahwa masyarakat merupakan konsumen yang hendaknya dikenalkan dan diberikan sebuah produk politik yang dewasa, unggul dan tidak bersifat demagogis yang hanya memainkan emosi rakyat sehingga kesejahteraan rakyat merupakan terminal akhir dalam sebuah pencapaian. Kembali pada sebuah dimensi informasi dan dimensi tujuan dalam komunikasi politik bangsa ini maka pembahasan ini akan diarahkan pada sebuah produk yang ditawarkan untuk rakyat itu sendiri. Bentuk produk politik yang  tidak cacat, menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat akan lebih mudah “dibeli” dengan suara rakyat.

Bentuk komunikasi politik di bangsa ini dalam perjalanannya mengalami degradasi kepercayaan dari rakyat sebagai “pemegang kekuasaan tertinggi” dalam suatu Negara. Berbagai macam perilaku para politikus bangsa tidak memberikan keunggulan dalam kaitannya dimensi informasi maupun tujuan yang memuaskan. Indikasi ini tercatat diantaranya dengan meningkatnya golput dalam pemilu presiden 2009 lalu. Produk politik memiliki kecenderungan membosankan bagi sebagian rakyat dan sepertinya tidak memberikan pendidikan politik yang diharapkan.

Manusia sebagai suatu organisme akan memunculkan suatu perilaku berdasarkan atas sikap yang merupakan hasil dari bentuk persepsi sebelumnya. Pembentukan persepsi dalam hal ini merupakan suatu proses mental dalam diri. Dalam hal ini indera yang dimiliki menjadi senjata andalan dalam proses penangkapan stimulus yang ada untuk mampu dipersepsikan sesuai dengan yang dikehendakinya. Proses mempersepsikan suatu stimulus salah satunya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu yang telah dijalaninya. Dengan pengalaman tersebut maka persepsinya yang muncul akan disikapi baik secara positif maupun negatif nantinya akan termanifestasikan dalam perilakunya.

Mencoba mengembalikan pada dinamika sosial yang telah maupun sedang terjadi saat ini, politik diindikasikan sebagai “barang” yang memiliki kecenderungan bernilai negatif oleh sebagian rakyat. Tidak adanya perbaikan secara signifikan sejak tahun 1999 sebagai tonggak sejarah baru pergolakan bangsa atau khususnya perpolitikan bangsa mempengaruhi cara pandang masyarakat akan perpolitikan bangsa ini. Penerimaan cara pandang ini merupakan bentuk dari penerimaan komunikasi politik yang ada. Komunikasi politik bangsa ini masih membingungkan bagi sebagian rakyat. Tidak adanya konsistensi yang jelas dalam gerak dan tindakan para politikus, keputusan-keputusan yang dirasa tidak mampu mengakomodir dengan baik kepentingan-kepentingan rakyat, maupun intrik-intrik internal antar komunitas partai sebagai representasi lembaga perpolitikan yang berkali-kali terekspos memberikan kecenderungan kemuakan bagi penonton.

Kita sepertinya tidak disuguhkan suatu komunikasi politik yang baik. Dimensi informasi yang disuguhkan kepada kita cenderung berupa bentuk negative information sehingga membuyarkan dimensi tujuan yang baik pula dalam komunikasi tersebut dimana politik seharusnya memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Kesejahteraan ini tidak hanya berbentuk ekonomi, akan tetapi kesejahteraan dalam kondisi maupun iklim dalam bernegara. Tidak sedikit yang berujar bahwasanya reformasi kita ini belum berhasil. Reformasi yang seharusnya memformat ulang suatu sistem yang “beku” menjadi suatu sistem yang terbuka, otonom, maupun kredibel dalam pencapaian kesejahteraan rakyat sepertinya belum tercapai dengan baik saat ini khususnya di bidang perpolitikan bangsa.

“kita memerlukan suatu bentuk dinamika politik, tapi tidak memerlukan penggerak politik yang melencengkan dari tujuan baik suatu politik.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s