PERSEPSI DALAM PSIKOLOGI EKONOMI

Manusia sebagai pelaku dalam sebuah kegiatan ekonomi, memiliki sebuah goal setting berupa kepuasan dalam diri. Pemenuhan akan rasa kepuasan ini memiliki kohesivitas berbagai macam aspek dalam prosesnya. Kepuasan dalam diri yang muncul memerlukan keterlibatan berbagai proses mental serta manifestasinya dalam berbagai bentuk perilaku yang yang muncul pada individu tersebut. Individu sebagai pribadi, maupun sebagai anggota dalam sebuah komunitas, akan memberikan sebuah pengaruh perihal dalam perilaku ekonomi tersebut. Psikologi sebagai salah satu ilmu yang mempelajari akan sebuah perilaku manusia, memberikan kontribusi analisis yang cukup mendalam terhadap hal yang akan mempengaruhi individu dalam menjalani segala proses kehidupan ekonomi yang sedang dijalani.

Psikologi ekonomi dapat dipandang sebagai pembentukan keilmuan bagaimana memandang sebuah kegiatan ekonomi yang terjadi akan dipengaruhi oleh faktor psikologis yang ada. Malakhov dkk (1994) memberikan pemaknaan bahwa “psikologi ekonomi sebagai sebuah studi ilmu yang mempelajari sebuah hubungan antara karakteristik psikologi yang terdapat pada individu maupun pada kelompok dalam aktivitas ekonomi yang dilakukan”. Terkait dengan hal tersebut, aktivitas ekonomi atau dengan kata lain perilaku ekonomi dalam hal ini terkait dengan beberapa hal. Van Raij (Antonides, 1991) memberikan penjelasan bahwa perilaku ekonomi berkaitan dengan perilaku individu yang terkait dengan pengambilan keputusan, faktor yang menentukan, dan akibat dari pengambilan keputusan dalam area permasalahan ekonomi. Karakteristik psikologis di dalam individu memiliki berbagai macam bentuk, salah satunya adalah sebuah persepsi. Salah satu karakteristik yang secara mudah dipahami sebagai pengaruh terhadap individu dalam memunculkan sebuah pandangan terhadap apa yang ditangkap oleh indera dan akan dimanifestasikan dalam bentuk perilaku. Pandangan tentang sebuah persepsi secara komprehensif dapat ditelaah melalui berbagai penjelasan ilmiah. Gregory (1997) mendefinisikan persepsi sebagai sebuah hipotesis, memberikan sebuah gambaran kesimpulan dari suatu objek yang tidak dipahami. Saleh dan Wahab (2004) menjelaskan persepsi merupakan proses dalam menggabungkan dan mengorganisasikan hasil dari penginderaan sehingga sadar akan apa yang ada di sekitar maupun diri sendiri. Parek (Arisandy, 2004) menerangkan bahwa persepsi dapat dirumuskan sebagai suatu proses penerimaan, pemilihan, pengorganisasian, serta pemberian arti terhadap rangsang yang diterima.

Persepsi dalam konteks secara umum dalam pandangan psikologis dalam penjelasan di atas telah memberikan pemahaman tersendiri. Pemaknaan persepsi dalam psikologi ekonomi yang telah dipelajari saat ini merupakan pemaknaan yang lebih komprehensif dan bersifat pragmatis terhadap perilaku ekonomi atau perilaku konsumen. Sama halnya dengan perilaku ekonomi, perilaku konsumen dalam hal ini menekankan pada beberapa tindakan yang dilakukan oleh individu. Steenkamp (Toloshana, Webhi dan Persiva, 2005) menjelaskan bahwa studi tentang perilaku konsumen cenderung membedakan tentang sejumlah langkah-langkah proses pengambilan keputusan (pada saat kebutuhan muncul, mencari dan mengevaluasi informasi, dan perilaku setelah membeli) dan faktor internal serta eksternal yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Toloshana, Webhi dan Persiva (2005) menambahkan bahwa dengan adanya faktor internal dan eksternal tersebut merupakan hal yang terpenting untuk memunculkan persepsi dan berujung pada proses pengambilan keputusan yang diambil, serta secara khusus mengevaluasi sebuah produk.

Prasetijo dan Ihalauw (2005) menerangkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi seseorang adalah adanya faktor internal (pengalaman, kebutuhan saat itu, nilai-nilai yang dianut dan harapan) dan faktor eksternal (bentuk sebuah produk, sifat-sifat stimulus dan situasi lingkungan). Prasetijo dan Ihalauw (2005) menambahkan bahwa adanya dinamika persepsi sebagai hasil seleksi sebuah stimulus yang dapat diterima oleh individu yaitu berupa sifat-sifat stimulus yang didasarkan pada prinsip contrast (menguatkan persepsi dengan menonjolkan perbedaan intensitas stimulus), closure (konsumen akan mendapatkan kepuasan bila berhasil mengutuhkan pesan tersebut), proximity (menurut prinsip kedekatan), similarity (ada kecenderungan untuk mengelompokkan produk-produk yang sama), serta adanya sebuah harapan tentang apa yang sedang dihadapi dan motif untuk memenuhi kebutuhan. Reaksi individu terhadap suatu stimulus akan sesuai dengan pandanganya terhadap dunia ini atau versi subyektifnya terhadap realitas yang dibentuk oleh faktor-faktor internal maupun eksternal tersebut. Sikap yang muncul terhadap suatu produk pada diri konsumen merupakan sebuah bentuk integrasi dari persepsi-persepsi yang membentuknya (Toloshana, Webhi dan Persiva, 2005).

Mencoba dengan menganalisa salah satu sebuah kasus ekonomi yang ada, bagaimana perilaku ekonomi yang muncul pada individu jika dihadapkan dengan keadaan ekonomi yang kurang menentu dalam perkembangannya. Sebagai contoh keadaan krisis ekonomi Amerika akan mempengaruhi keadaan ekonomi internal negara. Pemahaman akan munculnya kembali suatu kondisi kritis perekonomian dalam negeri akan memunculkan sikap-sikap tertentu. Menilik dari faktor internal munculnya sebuah persepsi maka berdasarkan yang telah dilalui oleh individu dengan berpedoman pada pengalaman akan krisis ekonomi yang dijalaninya, sikap kehati-hatian dan waspada akan muncul sebagai bentuk implikasi proses persepsi yang telah ada. Muncul sikap skeptis sebagai bentuk persepsi yang telah terbentuk terhadap penyimpanan uang di Bank, maupun ketakutan pergolakan harga dalam krisis sebelumnya yang tidak menentu dapat muncul sebagai implikasi persepsi yang telah ada dan memunculkan perilaku tertentu, dan individu akan lebih berhati-hati dalam memilah sebuah kebutuhan ekonomi dalam pemuasannya. Sebuah harapan dalam diri tentang apa yang sedang dihadapinya mungkin akan memunculkan sebuah sikap negatif, harapan dalam diri bahwa gejolak perekonomian yang terjadi saat ini dirasa memiliki dampak yang tidak pasti.

Berdasarkan faktor eksternal sudah terlihat dengan jelas bahwa saat keadaan ekonomi dunia seperti halnya saat ini akan memberikan dampak pemahaman sebuah persepsi yang buruk terhadap perilaku ekonomi yang akan muncul. Stimulus-stimulus yang muncul saat pergolakan ekonomi dunia memberikan efek negatif dalam segala penerimaan indera. Turunnya harga saham negeri sebagai akibat jatuhnya peekonomian Amerika, adanya indikasi rendahnya hasil penerimaan ekspor dalam periode sekarang ini, menembusnya harga rupiah mencapai di atas Rp. 10.000, keadaan perekonomian sektor lokal yang diasumsikan akan terkena dampak yang lebih parah, serta keadaan-keadaan perekonomian yang lain. Keadaan kondisi-kondisi seperti halnya ini merupakan aspek situasi lingkungan yang mempengaruhi pembentukan sebuah persepsi individu dalam pertimbangannya untuk berperilaku ekonomi.

Kesimpulan yang dapat diambil dalam pembahasan yang telah dilakukan di atas memberikan sebuah asumsi bahwa persepsi merupakan salah satu faktor yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi sebuah keputusan dalam perilaku ekonomi individu. Faktor yang memunculkan sebuah persepsi baik secara internal maupun secara eksternal akan mempengaruhi individu untuk melakukan perilaku ekonominya dengan memiliki dasar-dasar pertimbangan yang menjadi perhatian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s