Dimensi Budaya Bangsa, Values dan Perilaku Korupsi

“KORUPSI” merupakan sebuah kata-kata yang tidak asing bagi bangsa ini. permasalahan yang sangat mengakar dan menjadi “budaya” baik secara latent maupun langsung terlihat dalam dinamika bermasyarakat dalam bangsa. Kasus kelas kakap hingga kelas teri mulai terkuak dalam beberapa saat ini sebagai usaha kita dalam mengurangi atau lebih ekstremnya menghapus korupsi di dalam bangsa ini. Mulai dari kalangan para dewan yang terhormat atau yang sering kita sebut sebagai wakil rakyat, para pemimpin atau pejabat negara dari berbagai institusi, sampai para rakyat yang tidak menutup kemungkinan sedikit banyaknya baik secara disadari maupun tidak perilaku korupsi diaplikasikan dalam kondisi tertentu.

Berbicara dalam konteks korupsi ada baiknya kita mencoba mengenali perkembangan akan makna sebuah kata korupsi. Binawan (2006) memberikan pemaparan kata korupsi dalam pemahaman filsuf Yunani yaitu Aristoteles bahwasanya korupsi ditempatkan dalam konteks filsafat alamnya yang lebih mengarah pada perubahan yang mempunyai warna penurunan dan hal tersebut jauh pada konteks kekuasaan atau uang. Adanya perubahan makna korupsi yang mengarah pada kekuasaan, Binawan (2006) memaparkan hal tersebut dengan menghadirkan sebuah kata-kata yang terkenal dari Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 3 April 1887 yaitu “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. Dalam perkembangannya secara berkelanjutan, korupsi seperti saat sekarang ini lebih mudah kita pahami merupakan dalam kaitannya dengan kekuasaan dan uang. UNDP (2004) dalam Anti Corruption Handbook menjelaskan bahwasanya korupsi itu pada prinsipnya merupakan permasalahan pemerintah, hal ini kembali lagi mengarah pada sebuah institusi yang memiliki kekuasaan yang terkait dengan akuntabilitas dan transparansi.

AusAID (2007) memberikan penjabaran yang tidak jauh berbeda mengenai perilaku korupsi. Bahwasanya perilaku korupsi berupa penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan untuk keuntungan pribadi. Penyalahgunaan kekuasaan tersebut dapat dijelaskan dalam berbagai bentuk tergantung pada konteks dan culture lokal. Berbagai perilaku korupsi yang ada mulai dari yang kecil yaitu meliputi uang suap maupun penyogokan untuk proses birokrasi hingga korupsi besar yang melibatkan para pemimpin, politikus, dan pejabat publik. Segala perilaku korupsi tersebut sangat merugikan yang berujung pada pengurangan pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.

Sekelumit “perjalanan” makna kata korupsi yang secara singkat telah dijabarkan, maka kesimpulan yang dapat diberikan bahwasanya korupsi memunculkan makna yang bersifat negative maupun mengarah pada sebuah penurunan. Dinamika korupsi ini dapat dilukiskan secara sederhana pula dengan individu sebagai pelaku atau subjek, yang melahirkan sebuah sistem dan diakhiri dengan sebuah hasil. Cara pandang sederhana ini juga menjadi pandangan secara umum dalam dinamika bernegara dan berbangsa masyarakat kita. Memasuki dalam kawasan kata berbangsa dan bernegara, maka tidak bisa kita lepaskan dengan budaya bangsa yang dibentuk dan membentuk masyarakat di dalamnya. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya, terdiri dari berbagai suku bangsa dengan platform bhineka tunggal ika yang kita banggakan. Dengan berbagai macam bentuk kebudayaan yang kita miliki, maka dalam hal ini saya tidak akan mencatut salah satu bentuk budaya dari salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia akan tetapi lebih kepada pemahaman budaya secara makro.

Menurut ilmu antropologi kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990). Dalam perkembangannya budaya memberikan bentuk kebiasaan yang secara nyata dalam pola tingkah laku masyarakat di dalamnya. Panggabean dan Angelina (2008) yang mengacu pada Thomas (1999) menjabarkan bahwasanya konsep budaya dalam kajian psikologi antar budaya merupakan sebuah orientasi mental. Lebih jauh Panggaben dan Angelina (2008) memaparkan bahwa dalam pengertian tersebut pentingnya sebuah budaya bagi individu adalah peran budaya untuk mengarahkan perilaku individu untuk merespon secara adekuat terhadap lingkungan. Adapun budaya sebagai orientasi mental yang membentuk persepsi, pola pikir, dan sistem nilai dalam hal ini budaya merupakan hasil kesepakatan atau sosialisasi dan memiliki sebuah kekhasan untuk sebuah kelompok sosial yang berisikan simbol-simbol yang disepakati dan diketahui secara bersama sehingga memudahkan komunikasi dan kerjasama di dalamnya.

Posisi budaya yang sedikit banyaknya telah dijabarkan memberikan sebuah kata kunci bagi pemahaman kita bahwasanya budaya muncul akibat adanya sebuah hasil belajar yang melibatkan sebuah kelompok untuk membuat sebuah kesepakatan bersama dalam menjalankan kelompok tersebut sesuai dengan nilai, aturan maupun pola pikir yang telah disepakati bersama pula. Terkait dengan permasalahan budaya, nilai dan korupsi saya mencoba untuk mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hofstede (1980) tentang budaya yang menghasilkan plot dimensi budaya pada beberapa negara. Terlepas dari kritikan-kritikan yang telah ada, Hofstede (1988) menjabarkan dimensi-dimensi dalam budaya terbagi atas 5 dimensi yaitu:

PDI (power distance index); merupakan sebuah tingkat terkait dengan sebuah kekuasaan di dalam suatu organisasi. Rendahnya kekuasaan anggota dalam institusi maupun organisasi dapat diterima. Dalam hal ini, anggota dalam sebuah organisasi atau institusi memiliki sebuah kekuasaan yang bervariasi. Hal ini menggambarkan sebuah ketidaksamaan (more versus less) yang menggambarkan dari bawah bukan dari atas. Ketidaksamaan dalam level masyarakat disahkan oleh para pengikut seperti juga oleh para atasan.

IDV (individualism); merupakan perlawanan dari kolekstifisme. Dalam hal ini kolektifisme individu dilekatkan pada kelompoknya, kohesivitas dalam kelompok sangat tinggi. Pada karakter individualism maka hubungan antar individu terlihat hilang, identifikasi terlihat pada diri pribadi baru.

MAS (masculinity); merupakan kebalikan dari feminimitas. Dalam dimensi ini terkait pada sebuah kedudukan maupun nilai gender yang terdapat pada suatu daerah atau negara. Konteks kedudukan seorang laki-laki dan perempuan dalam beberapa daerah memiliki sebuah perbedaan pengakuan.

UAI (Uncertainty Avoidance Index); merupakan yang terkait dengan urusan toleransi akan sebuah ambiguitas dan ketidakpastian. Pada budaya yang tidak mampu menerima sebuah ketidakpastian lebih emosional dan terdorong oleh sebuah energy kegelisahan, meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi dengan menggunakan peraturan-peraturan yang ketat. Pada budaya yang mampu menerima sebuah ketidakpastian maka mereka mampu menerima perbedaan dengan menggunakan beberapa aturan yang bisa diterima.

LTO (Long Term Orientation); merupakan dimensi yang berlawanan pada orientasi jangka pendek. Dalam komunitas yang memiliki dimensi LTO yang tinggi maka diasosiasikan dengan keadaan akan tingkat penghematan dan ketekunan yang dimiliki oleh sebuah komunitas.

Berbicara akan sebuah budaya tidak akan terlepas dengan sebuah nilai yang sedikitnya telah kita lihat dalam konteks budaya secara harfiah dalam pandangan psikologi. Mencoba untuk memunculkan sebuah alur berpikir yang subjektif dalam hal ini, maka dinamika munculnya sebuah perilaku korupsi dalam berbangsa kita coba munculkan dengan melakukan sebuah analisa yang cukup sederhana dengan mengacu pada dimensi-dimensi budaya dalam kajian Hofstede (1988).

Sebelum memunculkan sebuah hipotesa akan dinamika perilaku korupsi yang terkait pada sebuah dimensi budaya bangsa dan nilai itu sendiri, maka konsep sebuah nilai akan kita coba telaah lebih lanjut salah satunya dengan mengambil pemahaman dari Schwartz (1994) yang berpendapat bahwa nilai merepresentasikan suatu tujuan yang disadari sebagai respon dari tiga kebutuhan universal manusia yaitu kebutuhan individu sebagai organisme biologis, untuk koordinasi dalam interaksi sosial dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup secara baik. Melihat lebih jauh, maka kita akan mendapati sebuah klasifikasi nilai yang berbeda motivasinya menurut Schwartz (1994). Kesepuluh nilai tersebut adalah:

(1) kekuasaan (power) yaitu status sosial dan prestige, mengendalikan dan mendominasi orang lain dan sumber daya. Termasuk didalam tipe ini adalah nilai kesejahteraan dan kewenangan kekuasaan sosial.

(2)prestasi atau (achievement) yaitu keberhasilan pribadi yang ditunjukan melalui kompetensinya menurut standar sosial, termasuk dalam tipe ini adalah nilai kesuksesan, kemampuan dan ambisi.

(3)hedonisme yaitu kesenangan dan kenikmatan bagi dirinya, contohnya adalah nilai kesenangan dan menikmati hidup.

(4)stimulasi / pendorong (stimulation) yaitu kegairahan dan kesenangan terhadap sesuatu yang baru, menyukai tantangan hidup. Contohnya adalah nilai keberanian, hidup bervariasi, kegairahan hidup.

(5)penentuan diri (self – direction) yaitu perilaku dan pemikirannya bebas, memilih, menciptakan dan mencari. Contohnya adalah nilai kriativitas, ingin tahu, merdeka.

(6) universalisme yaitu memahami, menghargai, toleran dan melindungi kesejahteraan dan seluruh manusia dan alam.

(7)kebajikan (benevolence) yaitu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan manusia yang sering melakukan kontak. Contohnya adalah nilai menolong, jujur dan pemaaf.

(8)tradisi (tradition) yaitu menghargai, berkomitmen dan menerima tradisi atau kebiasaan dan ide-ide yang disediakan oleh agama maupun budaya. Contohnya adalah nilai rendah hati, tulus menerima keadaan.

(9)Konformitas (conformity) yaitu pengekangan atau pengendalian perilaku, kehendak hati dan impuls untuk merugikan atau menyakiti orang lain dan melanggar harapan dan norma sosial. Contohnya adalah nilai kesopanan, kepatuhan, menghormati orang tua atau orang yang lebih tua.

(10)keamanan (security) yaitu keamanan, harmoni, dan stabilitas sosial, hubungan dan diri. Contohnya adalah nilai keamanan nasional dan tata tertib sosial.

Analisa Sederhana:
Kita mencoba melakukan sebuah analisis sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Hoofstede sebagai berikut:
Hofstede telah melakukan sebuah penelitian pada beberapa negara yang ada di belahan dunia ini. Sedangkan penelitian di Indonesia telah diperoleh hasil bahwa dimensi yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki Power Distance Index yang tinggi yaitu bahwa jarak kekuasaan pada masyarakat Indonesia masih tinggi. Power Distance atau jarak kekuasan yang tinggi dalam masyarakat merupakan indikasi tingginya level ketidaksetaraan dalam masyarakat. Sedangkan pada dimensi kebudayaan Individualisme adalah yang terendah, ini berarti bahwa masyarakat Indonesia menganut sistem kolektif. Hofstede juga memaparkan bahwasanya dengan kombinasi index nilai yang tinggi antara PDI dan UAI akan mengakibatkan situasi dimana para pemimpin mempunyai otoritas dan kekuasaan yang paling akhir. Hukum dan peraturan dikembangkan oleh mereka-mereka yang berada di dalam kekuasaan.

Merujuk pada pemaparan yang dilontarkan oleh Schwartz (1994), bahwa segala tindakan manusia yang didasari oleh nilai-nilai tertentu yang berakibat baik secara sosial maupun psikologis dapat saja menimbulkan konflik atau cocok (compatible) dengan tipe nilai-nilai lainnya. Misalnya, penekanan pada nilai-nilai prestasi akan bertentangan dengan nilai kebajikan yaitu pencapaian kesuksesan pribadi akan menghalangi tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan atau membantu orang lain. Selain saling bertentangan, antara satu nilai dengan nilai yang lain dapat juga saling komplemen atau cocok. Nilai kebijakan (benevolence) dan nilai konformitas adalah nilai-nilai yang cocok satu dengan yang lainnya yaitu mendorong seseorang berperilaku sesuai dengan tuntutan kelompoknya.

Menurut subyektifitas penulis, mencoba untuk mengkelompokkan kembali klasifikasi nilai mendasarkan pada pemahaman akan dimensi budaya menurut Hofstede (1988) maka dapat dipaparkan sebagai berikut:

Power Distance Index yang tinggi melingkupi nilai power dan achievement.
Individualisme yang rendah melingkupi nilai universalisme, konformitas dan kebajikan.

Sehingga cukup jelas bagi kita memahami bahwasanya ada sebuah kontradiksi nilai yang dianut oleh masyarakat kita. Nilai yang saling bertentangan di dalam perjalanan dan dinamika kebangsaan kita ini. Mengarah pada pemaparan yang diberikan oleh Schwartz (1994), yaitu di dalam konteks penekanan nilai-nilai prestasi akan bertentangan dengan nilai kebajikan itu sendiri. Kondisi dimensi power distance index yang tinggi tidak mampu mengakomodir nilai yang memiliki orientasi dalam berperilaku yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan bersama yang kita lihat dengan rendahnya dimensi individualisme dalam masyarakat.

Dengan landasan yang mengarah pada nilai tersebut, maka suatu keniscayaan bahwa perilaku korupsi menjadi hal yang mudah kita temui. Kondisi tanpa memandang keadaan orang lain yang dimiliki, pandangan tanpa rasa untuk mensejahterakan bersama sebagai tuntunan dalam berbangsa dan bernegara layak kita perhatikan sebagai salah satu faktor penyebab yaitu korupsi yang berorientasi pada keuntungan pribadi. Menguatkan akan perihal tersebut, sebuah kondisi dimana pemimpin memiliki otoritas yang paling akhir serta adanya pengembangan-pengembangan hukum oleh mereka-mereka yang terdapat di dalam kekuasaan itu sendiri maka kecenderungan adanya transparansi dan akuntabilitas yang ”dipermainkan” bisa saja terjadi dan tersaji dengan rapi. Kecenderungan masyarakat yang menerima dan ”menggunakan” sebuah ketidaksetaraan kekuasaan menjadi acuan berkehidupan sosial serta kecenderungan untuk mampu memfleksibelkan sebuah aturan maka perilaku korupsi di dalam dinamika kehidupan berkebangsaan ini sekali lagi bisa menjadi sebuah keniscayaan.

Semoga sekelumit gambaran dinamika yang telah disajikan tersebut bisa menjadi renungan dan refleksi bagi masyarakat kita. Menguatkan nilai-nilai yang berorientasi pada kesejahteraan bersama menjadi hal yang penting. Kesejahteraan bagi seluruh masyarakat adalah sebuah kesejahteraan bagi diri kita yang mencoba untuk memunculkan kesejahteraan itu sendiri melalui kekuasaan yang dimilikinya. Semoga…

2 thoughts on “Dimensi Budaya Bangsa, Values dan Perilaku Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s