Kepatuhan Merupakan Harga Mahal dalam Bangsa yang Kolektif

Bukan merupakan sebuah rahasia lagi bahwa permasalahan yang ada dalam bangsa ini terkait dengan pada salah satunya adalah sebuah kepatuhan. Baik kepatuhan secara administrative, lingkungan sosial maupun bentuk-bentuk dimensi yang lainnya. Berbicara pada perilaku manusia, mengacu pada salah satu field theory dalam pandangan psikologi yaitu teori medan dari Lewin yang menjelaskan bahwasanya perilaku merupakan fungsi dari lingkungan dan organism itu itu sendiri [B=f(E,O)]. Maka berdasarkan acuan tersebut bentuk lingkungan dalam hal ini sangat mempengaruhi pada seorang individu yang dalam proses pergumulannya akan menghasilkan sebuah perilaku yang nyata yang dapat terlihat. Kepatuhan dalam hal ini merupakan salah satu bentuk perilaku yang sepertinya “mahal” untuk bisa ditemukan, dilakukan maupun di budayakan bisa jadi dan sangat mungkin akibat adanya sebuah lingkungan yang mendukung terjadinya ketidakpatuhan maupun terjadinya kepatuhan itu sendiri. Lingkungan secara fisik yang di set dengan berbagai pertimbangan dan atribut-atribut yang mengarah pada sebuah kepatuhan bisa membentuk kepatuhan itu dengan sendirinya.

Secara kasat mata setidaknya bangsa ini telah memiliki kondisi lingkungan yang mengarah pada sebuah set kepatuhan itu sendiri. meskipun masih ada beberapa yang perlu disempurnakan atau malah dirubah untuk bisa didesain sedemikian rupa mampu mengatasi permasalahan kepatuhan ini. Berbicara lebih mendalam dalam ranah sosial maka kepatuhan itu sendiri terkait erat dengan adanya sebuah faktor interaksi antar individu dalam dinamikanya. Sebuah peradaban yang dibentuk salah satunya berupa budaya merupakan salah satu bentuk capital yang ada. Budaya kolektif merupakan sebuah hasil kesepakatan secara bersama yang diakui dan dipegang bersama di dalam anggota kelompok itu sendiri yang merupakan bentuk kesepakatan dimana secara sederhana memunculkan pemikiran maupun tindakan yang mengatasnamakan kesejahteraan dalam skala kelompok besar. Kesejahteraan bukanlahlah atas nama individu, kelompok kecil maupun keluarga. Kesejahteraan bagi kelompok besar menjadi kesejahteraan untuk individu itu sendiri sebagai anggota akan kelompok.

Kerangka yang ingin dibangun dalam hal ini adalah kepatuhan itu sendiri terkait dengan budaya kolektif sebagai modal. Kelman (1958) menyajikan sebuah konstruk teori mengenai sebuah sikap dan perilaku dalam kaitannya pengaruh sosial. Kelman membagi proses tersebut dalam tiga tahap dalam perubahan sikap dan perilaku yang diakibatkan adanya pengaruh sosial yaitu compliance (kepatuhan), identification, internalization. Berdasarkan pemahaman yang dikembangkan oleh penulis, maka compliance atau kepatuhan itu sendiri merupakan tahap paling dasar dimana individu dalam bersikap maupun berperilaku bertujuan untuk menjauhkan dirinya atas punishment yang mungkin akan diberikan oleh pihak lain jika sikap maupun perilakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Reward menjadi tujuan yang paling utama untuk pencapaian tanpa mengerti apa esensi dari perilaku yang dilakukannya tersebut. Tahap identification dalam hal ini merupakan tahap sikap dan perilaku individu yang berdasarkan sebuah figure pihak lain. Individu akan menerima pengaruh sosial tersebut dikarenakan individu ingin membangun atau menjaga keharmonisan hubungan tersebut terkait adanya identifikasi figure itu sendiri. Kepuasaan dalam sebuah interaksi yang berada dalam lingkungannya akan mempengaruhi individu dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan yang dihadapi. Pada tahap identification ini pula individu masih dianggap tidak mampu memahami apa esensi atas perilaku yang dilakukannya. Memasuki pada tahap yang terakhir yaitu internalization maka di dalam sikap dan perilaku yang dilakukan adalah suatu hal yang dirasakan bahwa hal itu sesuai dengan sistem nilai yang ada dalam diri. individu sudah mengetahui apa makna atau esensi atas sikap maupun perilaku yang dilakukannya. Saat individu melakukan sikap dan perilaku tersebut maka reward yang bersifat instrinsik akan didapatkannya.

Menilik kembali pada permasalahan bangsa ini tentang sikap dan perilaku akan patuh terhadap sebuah rules, baik secara formal maupun informal maka menurut penulis masih berproses pada tataran dasar yaitu compliance. Sikap dan perilaku kita masih didasarkan pada ketakutan akan sebuah punishment atau malah hanya mengejar reward yang kita sendiri tidak mampu mengerti sesungguhnya makna dibalik sebuah rules itu sendiri. Usaha untuk melakukan perubahan besar hingga mampu mempengaruhi mencapai tataran internalization menjadikan pekerjaan yang membutuhkan effort dan resources yang cukup mahal. Perlu banyak pembenahan di dalam segala sektor dan dimensi. Memerlukan sebuah kesadaran yang perlu ditanamkan secara berulang, terus menerus, keterkaitan segala elemen-lemen yang membangun konstruksi bangsa ini. Satu nilai yang mengharuskan kita untuk mengedepankan sebuah kesejahteraan bersama, menjadi sebuah nilai dalam diri yang berujung pada sebuah kesejahteraan untuk diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s