Kearifan Hidup Menjalani Kehidupan

Berbicara akan sebuah kearifan merupakan sebuah lembaran yang selalu mengiringi manusia dalam menggambarkan identitas akan eksistensi seorang individu sebagai seorang makhluk hidup yang sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Kehidupan merupakan dimensi yang dijalani seorang makhluk hidup dan terdapat dinamika yang akan menggembleng manusia itu untuk menjadi seorang manusia yang mampu menjalani nikmatnya kehidupan di dunia ini. Menjalani kehidupan ini selalu membutuhkan sebuah resources untuk mampu memahami akan kehidupan ini. Dalam kehidupan pun akan selalu mengalami sebuah interaksi dengan berbagai elemen-elemen kehidupan yang ada. Saat kita mampu memahami hal tersebut dengan kearifan yang kita miliki maka seperti halnya Mario Teguh berucap ‘hormatilah kehidupan maka kehidupan akan menghormati anda’.

Secara harfiah mengenai sebuah kearifan maka tidak bisa kita ingkari bahwa hal tersebut merupakan kekayaan internal dalam diri masing-masing individu. Yang (2008) memaparkan bahwa wisdom (kearifan) dapat dikategorisasikan, berupa kombinasi dari karakteristik kepribadian atau kecakapan, merupakan hasil positif akan perkembangan manusia, merupakan sebuah sistem kolektif akan pengetahuan praktis, dan merupakan sebuah proses yang muncul dalam konteks dunia yang real. Maka bukanlah sebuah kenaifan kita mengakui bahwa kita punya potensi untuk memunculkan bongkahan wisdom (kearifan) dalam menjalani kehidupan.

Penghormatan akan kehidupan seperti halnya sebuah konsep berjalan dengan sinergi terhadap segala elemen kehidupan dan dinamika kehidupan yang ada. Dimana konsep keselaran dan sinergi akan kehidupan ini merupakan kemampuan kita untuk mampu menghadapi segala problematika dan dinamika yang dalam kehidupan ini. Seperti halnya manusia yang selalu mengalami sebuah pasang dan surut dalam kehidupan, mengalami defisiensi dan menjalani keberkahan dan dengan selalu menghormati kehidupan maka kearifan akan memunculkan keselarasan yang seharusnya tercapai.

Menilik kembali pada konsep wisdom layaknya kearifan yang dikonsepsikan oleh diskusi-diskusi barat klasik membedakan bahwa kearifan tersebut dapat diketemukan pada orang-orang yang sedang menjalani kontemplasi akan kehidupannya, bahwa hal tersebut terjadi secara alami dan merupakan pemahaman yang bersifat ilmiah dimana secara implisit menurut Clayton’s bahwa wisdom dikonsepsikan dengan afeksi (empati dan perasaan terharu), refleksi (intuisi dan instropeksi) dan kognitif (pengalaman dan intelligensi) (Snyder & Lopez, 2007).

Secara eksplisit wisdom (kearifan) jika dilihat dalam sudut pandang life-span theory Erikson, bahwa wisdom dipandang sebagai bagian yang optimal dalam perkembangan dimana wisdom menggambarkan kematangan yang ada dalam diri dengan lebih mementingkan kebaikan bersama daripada kepentingan pribadinya (Snyder & Lopez, 2007). Hal ini secara teoritis menggambarkan bahwa kearifan akan membawa seseorang untuk tidak menjadi orang yang egois, mampu menselaraskan diri demi kepentingan dan kebaikan bersama yang selalu berujung pada kebaikan diri sendiri.

Konsepsi mendasar dari sebuah wisdom secara umum bisa menjadi pemahaman yang hampir sama. Akan tetapi jika kita mencoba menilik sebuah konsepsi lebih luas berdasarkan perbedaan budaya yang ada. Sternbergh (Yang, 2008) menemukan konsep wisdom di Amerika Utara terdiri dari kemampuan dalam pemikiran, kecerdasan, belajar dari ide dan lingkungan, pertimbangan, menggunakan informasi dengan tepat, dan ketajaman dalam pandangan. Konsepsi dari komunitas Hispanic (Valdez dalam Yang 2008) menekankan wisdom pada spiritualitas, sikap untuk belajar, dan perilaku dalam melayani dan perhatian. Takayama (Yang, 2008) menemukan bahwa konsep wisdom di Jepang terdiri dari dimensi berupa pengetahuan dan pendidikan, memahami dan pertimbangan, kemampuan sosial dan hubungan interpersonal, serta sikap instropeksi. Dimana perbedaan kedua budaya ini disimpulkan bahwasanya wisdom pada dunia timur menitikberatkan pada dimensi kognitif dan afeksi serta dunia barat menitikberatkan wisdom pada dimensi kognitif (Takahashi dalam Yang, 2008).

Konsepsi yang searah tersebut akan kita coba untuk memulai mengembangkan kearifan lebih luas menjangkau kehidupan kita. Kearifan yang berada pada diri kita, melekat dalam afeksi dan dipahami dalam kognisi kita menjadikan kita mampu memahami semua sisi dan dimensi apa yang terbaik bagi diri dan lingkungan yang ada. Bukan merupakan sebuah rahasia dan sudah sangat jelas kita melihat bahwasanya kehidupan di dunia sekarang ini sepertinya sudah mengalami hal yang serba ‘edan dan semrawut’. Seperti halnya kita menilik pada salah satu bentuk kearifan hidup dari falsafah jawa dari karya sastra Jayabaya ‘Sak Begja Begjane Wong Kang Lali, Luwih Begja Wong Kang Eling Lan Waspada’.

Bukan sebuah rahasia lagi bahwa sekiranya Jayabaya merupakan seorang raja yang terkenal akan karya sastra ramalannya tentang masa depan. Terlepas akan perbedaan pemahaman akan ramalan tersebut Amrih (2008) menterjemahkan bebas “bahwa suatu ketika jaman akan berubah secara drastis. Ada suatu masa yang mungkin bisa dianggap sebagai jaman edan. Kalau tidak ikut menjadi gila maka tidak mendapat penghasilan. Yang bisa berpikir secara sehat hanya selalu berwacana, orang yang bekerja demi sebuah kehidupan yang layak tidak bisa lagi secara bebas berkreasi, orang yang senang berbohong justru berbangga hati dengan selalu bersenandung. Tapi patut diingat dari semua itu, bahwa seberuntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada dalam perikehidupannya”.

Amrih (2008) memaparkan sebuah perenungan akan bait dari sastra Jayabaya tersebut dengan mengatakan bahwa sebenarnya bait tersebut bukanlah dimaknai dengan sebuah ramalan. Jauh melebihi hal tersebut bait itu mengajarkan dan memberikan peringatan pada kita dalam kehidupan manusia itu sendiri. Berkaca kembali pada konsepsi kearifan (wisdom) kita bisa melakukan analisa yang cukup ringan pada falsafah tersebut. Kearifan menjadi senjata yang ampuh dalam menjalani dinamika kehidupan yang mulai ‘edan dan semrawut’ ini. Kearifan akan menjaga diri kita dari perasaan acuh dan tidak peduli karena empati akan menguatkan diri kita untuk lebih menjadi pribadi yang mampu mengerti dan memahami permasalahan yang sedikitnya berada pada lingkungan kita. Kearifan akan memberikan jarak pada kita tentang perbuatan curang dan culas karena segala perbuatan yang kita lakukan tidak akan terlepas akan instropeksi dalam diri dan kearifan akan menjadikan kita lebih cerdas untuk menjadi yang terbaik dalam melihat dan mengendalikan ‘dunia’ dengan dukungan elemen kearifan akan empati dan instropeksi sebelumnya. Tidak perlu mengikuti jaman ‘edan’ itu karena kearifan dalam hidup ini menjadikan kita mampu untuk lebih bijak dalam menopang dan menyadari kondisi ‘waras’ yang sebenarnya.

James Julian M & John Alfred (2008) “kesuksesan duniawi tidak selalu buah dari kearifan. Namun, jika seorang punya kearifan, satu hal pasti ia miliki adalah kedamaian dalam pikiran dan mendapatkan kepuasan. Ia tidak memiliki harapan-harapan berlebihan yang tidak perlu. Di sisi lain ia justru akan puas dengan apa yang ia miliki”

Sharon Ryan (1999) “pandangan umum mengenai kearifan adalah bahwa orang bijak adalah orang yang merasa dirinya tidak bijak dan orang yang tidak bijak adalah orang yang merasa dirinya bijak”

Referensi

Amrih, P. 2008. Ilmu Kearifan Jawa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.

Julian, J & Alfred, J. 2008. Belajar Kepribadian: The Accelerated Learning for Personality (alih bahasa: Tom Wahyu). Yogyakarta: Pustaka Baca.

Ryan, S. 1999. What Is Wisdom?. Philosophical Studies, Vol. 93 No. 2: 199-139. February 1999. Netherlands: Kluwer Academic Publisher.

Snyder, C. R & Lopez, S. J. 2007. Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths. California: Sage Publications, Inc.

Yang, S. Y. 2008. A Process View of Wisdom. Journal Adult Development Vol. 15 No. 2: 62-75. Juni 2008. Springer Science+Business Media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s