Giving Voice To Children’s Perspectives on Peace

Titles: Peace, Conflict, and Violence (Peace Psychology for the 21th Century)
Editors: D. J Christie, R. V Wagner & D. A Winter (2001)
Chapter Twenty Seven: Giving Voice To Children’s Perspectives on Peace
Author: Ilse Hakvoort and Solveig Hagglund
Published: Prentice Hall

Giving Voice To Children’s Perspectives on Peace

Chapter ini membahas tentang konsep perdamaian dan strategi untuk memunculkan perdamaian dalam perspektif anak-anak dan remaja. Pembahasan konsep perdamaian dalam chapter ini dilaksanakan pada anak-anak dari dua negara Eropa yaitu Belanda dan Swedia. Fokus perhatian dari hasil refleksi anak-anak tentang konsep perdamaian dan strategi dalam memunculkan perdamaian dijelaskan dalam empat macam bentuk motif yaitu komunikasi, hubungan interpersonal, nilai kemanusiaan dan alam. Konsep perdamaian dan strategi memunculkan perdamaian yang dimunculkan oleh anak-anak diasumsikan adanya sebuah variasi akibat adanya interaksi dengan lingkungan sosial, politik dan lingkungan fisiknya (Durkin, 1995; Winegar & Valsiner, 1992a, 1992b; Woodhead, Light, & Carr, 1991).

Sejarah menyangkut perang dunia ke-II kaitannya dengan kedua negara adalah perbedaan keterlibatan dalam perang. Belanda memiliki sejarah terkait secara langsung dengan perang, dalam kaitannya dengan membatasi dan menolak invasi yang dilakukan Jerman. Swedia memiliki sejarah dalam perang dunia ke-II secara tidak langsung menjadi penyuplai persenjataan dan informasi untuk kedua sisi yang berkonflik. Oleh sebab itu, pengaruhnya pada anak-anak negeri Belanda, berkembang dengan konteks memori kolektif dan simbol yang berkaitan dengan perang. Kedua hal tersebut berkembang akibat pengaruh dengan adanya makam korban perang, cerita dari para orang tua, ingatan akan kegagalan perang, dan perayaan kemerdekaan dan perdamaian. Sebaliknya pada anak-anak Swedia, mereka tidak memiliki pengalaman yang sama dengan anak-anak di Belanda tentang perang dan perdamaian.

Assessment tentang konsep perdamaian pada anak-anak, diberikan terhadap 207 anak-anak Belanda dan 209 anak-anak Swedia dari umur 7 tahun sampai 17 tahun. Fokus perhatian dalam assessment ini adalah anak diminta untuk berpikir tentang perdamaian dari berbagai perspektif, termasuk peran diri dalam proses perdamaian dan bagaimana menjaga perdamaian jika anak-anak adalah “bos” dari negara mereka sendiri maupun sebagai “bos” dari dunia ini.

Mengacu pada keempat motif konsep perdamaian dan strategi memunculkan perdamaian berdasarkan perspektif anak-anak, dalam chapter ini menjelaskan bahwa dalam motif komunikasi sebagai proses dalam memunculkan perdamaian memiliki kaitan terhadap penghentian dan pencegahan terhadap perang. Berdasarkan pandangan anak-anak Belanda dan Swedia, diketahui bahwa dalam perspektif mereka untuk menciptakan sebuah perdamaian adalah dengan ketiadaan akan perang dan meniadakan kegiatan yang berkaitan dengan perang. Anak-anak memiliki pandangan bahwa untuk mencapai hal tersebut perlu menghentikan dan mencegah perang dengan diikuti sebuah aksi. Aksi dalam pandangan anak-anak berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan oleh para pemilik kekuasaan (pemimpin negara, raja maupun PBB) dengan melakukan strategi melalui pembicaraan. Termasuk di dalamnya adalah bernegosiasi dengan musuh, berdiskusi dengan para pemimpin yang lainnya, dan berbicara dengan prajurit sendiri. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk tanggung jawab politik yang harus dilaksanakan (Torney & Hess, 1971).

Konsep kedua yang dimunculkan oleh anak-anak tentang strategi untuk mencapai dan menjaga sebuah perdamaian adalah dengan membentuk sebuah hubungan interpersonal dengan membentuk pertemanan. Hal tersebut berkaitan dengan mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk membangun dan menjaga hubungan yang positif dengan sahabat dan age mates (Hagglund, 1999). Konsep perdamaian yang dimunculkan oleh anak-anak dalam hal ini secara singkat dapat dipahami bahwa dengan berusaha untuk membentuk kerjasama secara interpersonal dan keharmonisan di dalamnya merupakan bentuk nyata dalam menuju perdamaian.

Konsep ketiga berkaitan dengan nilai kemanusiaan dengan menitikberatkan pada persamaan dan keadilan sosial. Konsep persamaan untuk menuju perdamaian yang diutarakan oleh para remaja Belanda maupun Swedia (13 sampai 17 tahun) disini memiliki sedikit orientasi aksi berbeda yang harus dilakukan, walaupun dengan arah yang sama yaitu memunculkan persamaan dan keadilan sosial. Perbedaan ini dipengaruhi oleh perbedaan sejarah tentang perang yang melekat pada negara masing-masing anak. Remaja Belanda memberikan sebuah contoh bahwa untuk mencapai nilai persamaan dan keadilan sosial diantaranya dengan menghilangkan diskriminasi, menumbuhkan toleransi, dan sedikit banyaknya memperkuat proses demokrasi. Melalui media atau pamphlet, perihal tersebut dapat diinformasikan dan mendidik khayalak umum. Remaja Swedia lebih menekankan pada nilai kemanusiaan sebuah persamaan dan keadilan sosial pada tingkat internasional dan saling berbagi sebuah kesejahteraan dengan orang-orang miskin di negara lain. Contohnya, memberikan bantuan uang, pakaian, dan obat-obatan untuk negara berkembang serta mengharapkan dari anggota-anggota kawasan eropa sebagai penggerak menuju sebuah perdamaian. Konsep keadilan sosial pada dimaknai dengan adanya sebuah tindakan untuk mengurangi kemungkinan untuk perang. Orientasi ini dilakukan dengan cara tidak melakukan sebuah penindasan terhadap struktur sosial. Secara singkat perbedaan pada remaja Belanda dan Swedia lebih menekankan pada area tindakan untuk menuju perdamaian. Remaja Belanda lebih menekankan pada unit inttanasioanl dan remaja Swedia menekankan pada unit internasional.

Konsep yang keempat dalam memunculkan dan menjaga sebuah perdamaian adalah memunculkan isu yang berkaitan dengan alam dan ekologi (Hakvoort, 1996). Contohnya berupa memelihara hutan tropis, menutup polusi dalam industri, dan menghentikan penggunaan kendaraan mobil dan pesawat.

Konsep perdamaian yang disuarakan oleh anak-anak dalam chapter ini merupakan salah satu konsep yang diasumsikan dari beberapa konsep pencapaian perdamaian lainnya. Konsep perdamaian yang dimunculkan oleh anak-anak terkait dengan situasi dan kondisi yang telah maupun yang sedang dijalani anak-anak tersebut. Anak-anak dalam situasi kondisi politik, keamanan, maupun ekonomi yang bergejolak akan berbeda dengan kondisi yang stabil. Kesimpulannya, konsep perdamaian pada anak-anak tergantung pada informasi yang dikelola dalam diri anak tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan. Konteks perdamaian dan strategi menjaga perdamaian yang baik dipengaruhi oleh norma yang berlaku, nilai dan sikap atas perdamaian yang sesuai bagi masyarakat sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s