Addresing and Redressing Discrimination: Affirmative Action in Social Psychological Perspective

Titles : Handbooks of Social Psychology: Intergroup Processes
Edited by : Rupert Brown & Sam L Gaertner
Chapter Twenty Four : Addresing and Redressing Discrimination: Affirmative Action in Social Psychological Perspective
Author : Faye J. Crosby, Bernardo M. Ferdman, and Blanche R. Wingate
Published : Blackwell Publishers

PEMISAHAN DAN DISKRIMINASI ANTAR KELOMPOK

Munculnya kebijakan dan program akan affirmative action dalam konteks sebagai respon atas sejarah sistem kemasyarakatan dan adanya pemisahan maupun diskriminasi yang dilembagakan. Kebijakan ini dibentuk untuk menanggulangi adanya sebuah bentuk diskriminasi yang telah lama terbentuk antar kelompok. Kebijakan ini pada dasarnya memiliki sebuah tujuan jangka panjang yang berfungsi dalam mengurangi bentuk diskriminasi antar kelompok, akan tetapi kebijakan akan affirmative action ini dalam kenyataannya tidak selalu memiliki penerapan yang sempurna. Melihat adanya pro dan kontra tentang affirmative action yang terdapat di dalam aplikasinya, perihal tersebut merupakan pandangan yang sudah semestinya terjadi akan sebuah hubungan antara berbagai kelompok dan antara individu dengan kelompoknya (Crosby, Fredman dan Wingate, 2003).

AFFIRMATIVE ACTION : APAKAH ITU DAN MENGAPA DIPERLUKAN?

Affirmative action akan terjadi ketika organisasi itu berusaha untuk mewujudkan peluang yang mengarah pada keadilan maupun kesetaraan. Amerika sendiri memiliki sejarah AA yang lebih lama dan kemungkinan yang lebih kompleks. Lingkup ketenagakerjaan, AA sudah menjadi sebuah hukum di Amerika sejak tahun 1965. Dimulai dengan adanya affirmative action klasik, yang melibatkan 2 langkah yaitu pertama; menggunakan sebuah batasan pedoman yang baik sebagai bentuk pengawasan yang tepat dalam mempekerjakan para individu yang berkualitas dalam suatu kelompok sesuai dengan banyaknya jumlah individu yang ada. Kedua; jika ditemukan adanya sebuah ketidakseimbangan antara ketersediaan terhadap besarnya penggunaan yang ada maka akan dilakukan sebuah tindakan yang lebih tepat. Proses pengawasan yang benar dalam hal ini membutuhkan kesadaran dari para anggota masyarakat agar lebih memastikan bahwa para individu berkualitas dari kelompok tertentu yang dipekerjakan, sesuai dengan kapasitas yang tersedia dari kelompok tersebut.

Bidang pendidikan, seperti layaknya dalam bidang pekerjaan dalam hal ini affirmative action dilakukan sebagai respon dengan tidak mengakui adanya akan sebuah hak istimewa dan adanya sebuah keterbukaan bagi setiap individu dari berbagai latar belakang untuk masuk dalam sebuah institusi (Crosby et al, 2003). AA memiliki peran yang sangat penting dalam menekan diskriminasi di negara Amerika.

REAKSI TERHADAP PROGRAM AFFIRMATIVE ACTION.

Kebijakan AA dan program AA memunculkan sebuah polemik, adanya penerimaan dan penolakan. Penjelasan secara sederhana munculnya perbedaan reaksi antara kalangan pria kulit putih, wanita kulit putih dan pria maupun wanita kulit warna disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Faktor kepentingan diri pribadi (termasuk reaksi kepentingan atas nama kelompok), merupakan salah satu yang mempengaruhi munculnya reaksi orang-orang terhadap kebijakan maupun pelaksanaan AA (Esses & Seligman, 1996) dengan beberapa pengecualian (Murrel, Dietz-Uhler, Dovidio, Gaertner & Drout, 1994). Wanita lebih menyukai AA daripada laki-laki (Golden, Hinkle & Crosby, 1998; Little, Murray, & Wimbush, 1998; Ozawa, Crosby, & Crosby, 1996), kulit warna lebih mendukung daripada kulit putih (Golden et al, 1998; Tomasson et al, 1996; Konrad & Linnehan, 1995b) kadang-kadang reaksi dari kalangan latin lebih rendah daripada kulit putih atau kulit hitam. Pandangan lain menjelaskan bahwa kalangan penentang AA yang ikut ambil bagian terdiri dari beberapa orang kulit hitam (Carter, 1991; Sowel, 1994; Steele, 1991) dan wanita kulit putih (Heilman, 1996). Sama halnya dengan penetapan serta pengesahan AA secara terperinci dan prakarsa akan keanekaragaman oleh kelompok pria berkulit putih menunjukkan opini bahwa AA secara sederhana tidak bisa diakibatkan oleh kepentingan diri pribadi, ada faktor lain yang lebih berperan.
  2. Faktor lain adalah keadilan, untuk kebanyakan orang, AA berarti menjadikan adanya persamaan pada sebuah perlakuan istimewa yang tidak pada tempatnya (Belkin, 1998; Crosby & Cordova, 1996; Fine, 1992), yang mana melanggar prinsip dasar dari keadilan prosedural maupun keadilan distributif (Clayton & Tangri, 1989; Opotow, 1997; Tyler pada vol ini chapter 17). AA terlihat seperti lebih memberikan suatu hukuman kepada kelompok pria kulit putih (Crosby, 1994; Heilman, 1996). Pendapat bahwa AA adalah sebuah kebijakan yang adil maupun tidak, mungkin dapat menjadi salah satu indikator komitmen terhadap ideologi yang dominan di Amerika berupa ideologi meritocratic. Kluegel dan Smith (1986) menjelaskan inti dari ideologi tersebut ada tiga yaitu; pertama, setiap orang mempunyai kesempatan untuk sukses dalam ekonomi; kedua, kesuksesan dan kegagalan merupakan akibat dari faktor individu daripada faktor struktural; ketiga, adanya perbedaan hasil adalah hal yang tepat, merupakan gambaran dari perbedaan kontribusi yang dilakukan. Kelompok yang tidak mempercayai bahwa meritocratic dapat memunculkan suatu hal yang ideal dalam kenyataan yang ada, maka menganggap bahwa AA dapat mengembangkan sebuah keadilan yang sebenarnya (Crosby & Cordova, 1996; Haney & Hurtado, 1994). Begitu juga sebaliknya, kelompok yang menganggap bahwa meritocratic adalah ideologi yang ideal maka tidak menyukai AA (Crosby, 1994).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s