Tuhan Tidak Disembah Dalam Keadaan Perut Lapar

Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar merupakan salah satu kata-kata yang cukup memunculkan pemahaman lain dalam diri. Keadaan perut lapar diidentikan dengan sebuah kemiskinan yang dirasa telah banyak menghantui sosialitas masyrakat kita. Perut lapar (baca: kemiskinan) menjadikan individu sebagai objek penderita. Kata-kata yang dirasa cukup tajam dan relevan dengan realitas di negara kita. Melihat kemiskinan sama halnya dengan melihat lingkaran setan yang membutuhkan waktu lama dalam penanganannya. Terlalu banyak efek domino yang dimunculkan oleh kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan memunculkan banyak akan penderitaan secara fisik maupun psikologis dalam diri. Penderitaan akan perut lapar (baca: kemiskinan) secara fisik dirasa tidak memerlukan sebuah pemahaman yang cukup rumit dalam melihatnya. Sandang, papan pangan yang serba kekurangan merupakan salah satu acuan secara fisik dalam kemiskinan. Bukan sebuah hal cukup sulit juga untuk menemui sebuah kondisi tersebut dalam sosialitas masyarakat kita. Di sisi lain, penderitaan psikologis dalam sebuah kemiskinan dapat kita pahami dengan acuan penderitaan fisik yang dapat kita lihat.

Secara harfiah bisa kita maknai bahwa kemiskinan cenderung “hanya” akan memberikan sebuah penderitaan. Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar merupakan salah satu pemahaman yang perlu kita waspadai dalam fenomena pada masyarakat kita. “Tuhan” pada kondisi ini mencoba dimaknai sebagai wujud identifikasi dari sebuah moral, kebaikan, kejujuran, kerja keras, yang segalanya bersumber dari nilai-nilai Tuhan secara universal pada setiap ajaran agama yang ada. Sehingga memunculkan sebuah kondisi terbaik yang memberikan kebaikan pula. Mencoba lebih mendalami dari sebuah “fenomena” Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar ini sesuai dengan pembedahan makna sebelumnya, kita dihadapkan dengan sebuah “rasionalitas” akan keadaan yang sekarang. Apakah itu sebuah pembenaran atau bukan, kemiskinan dianggap menjadikan manusia hanya menjadi sebuah “objek”.

Manusia merupakan individu yang dirasionalkan, ditempatkan sebagai objek pada sebuah kondisi kemiskinan yang cenderung berujung pada pembenaran jika Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar. Pendapat ini hanyalah salah satu analisis yang mencoba dimunculkan terkait dengan kemiskinan yang telah mengakar pada negeri ini. Kondisi kemiskinan di negeri ini memunculkan banyak permasalahan tentang moral dan kejujuran. Kemiskinan dijadikan sebagai basis pembenaran akan perilaku amoral dan kecurangan. Banyak kasus yang bisa kita klaim dalam hal ini. Munculnya produk-produk makanan yang sangat membahayakan terkait dengan keinginan untuk mendapatkan sebuah keuntungan yang menggiurkan. Kondisi ini sepertinya menjadikan manusia sebagai objek dalam sebuah kondisi kemiskinan. Fenomena tidak sedikitnya para “pengemis” yang muncul pada akhir-akhir ini. Penipuan-penipuan dalam berbagai modus yang begitu meresahkan. Pencurian, perampokan, maupun bentuk kecurangan-kecurangan dan kejahatan yang lainnya. Sekali lagi manusia menjadi sebagai objek dalam kondisi kemiskinan.

Fenomena permasalahan akan seperti ini memang tidak bisa dipahami hanya dengan satu sudut pandang saja. Selalu ada dinamika yang cukup kompleks sebagai kondisi klasik. Beberapa klaim kasus di atas apakah bisa dikatakan bahwa Tuhan tidak bisa disembah dalam keadaan perut lapar? Kecurangan, ketidakjujuran, immoralitas yang muncul akibat kondisi perut lapar (baca: kemiskinan) apakah itu dibenarkan? Saya lebih mencoba menekankan sebuah pernyataan tidak. Karena secara kenyataannya memang ada sebuah kondisi yang kontras dengan fenomena negatif yang muncul akibat kemiskinan. Di negeri ini masih ada manusia-manusia yang mampu menyembah Tuhannya dalam keadaan perut lapar. Masih ada kejujuran, moralitas, maupun kebaikan yang masih dijunjung oleh manusia-manusia yang terkondisi pada perut yang lapar sebagai sebuah harta yang tidak mampu kita rasionalkan secara pasti. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa ada faktor lain yang menyebabkan kemiskinan ini menjadikan kita hanya sebagai objek. Faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita.

Tulisan ini hanya sebuah refleksi berpikir bagi kita semua. Bahwa ada permasalahan yang mendasar, permasalahan yang memerlukan kesadaran kita semua sebagai individu dan sebagai manusia. Mungkin beberapa kalangan menganggap bukanlah hal yang etis saat menjadikan kemiskinan sebagai hal yang diperdebatkan tentang moral ataupun amoral. Akan tetapi dalam hal ini kita semua mencoba untuk lebih menyadari bersama bahwa kemiskinan janganlah selalu dipersalahkan dengan faktor eksternal yang ada, meskipun hal tersebut juga memiliki kapasitas dalam “memelihara” kemiskinan. Berhati-hatilah dengan perkataan bahwa Tuhan tidak bisa disembah dalam keadaan perut lapar karena Tuhan selalu bisa disembah dalam kondisi yang terburuk sekalipun saat kita menyadari bahwa kita selalu mempunyai potensi menjadikan nilai-nilai Tuhan secara universal sebagai cara pandang hidup kita.

“Selalu ada jalan kebahagiaan saat seseorang menyadari kekayaan hati pada nilai-nilai Tuhan”

Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar merupakan salah satu kata-kata yang cukup memunculkan pemahaman lain dalam diri. Keadaan perut lapar diidentikan dengan sebuah kemiskinan yang dirasa telah banyak menghantui sosialitas masyrakat kita. Perut lapar (baca: kemiskinan) menjadikan individu sebagai objek penderita. Kata-kata yang dirasa cukup tajam dan relevan dengan realitas di negara kita. Melihat kemiskinan sama halnya dengan melihat lingkaran setan yang membutuhkan waktu lama dalam penanganannya. Terlalu banyak efek domino yang dimunculkan oleh kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan memunculkan banyak akan penderitaan secara fisik maupun psikologis dalam diri. Penderitaan akan perut lapar (baca: kemiskinan) secara fisik dirasa tidak memerlukan sebuah pemahaman yang cukup rumit dalam melihatnya. Sandang, papan pangan yang serba kekurangan merupakan salah satu acuan secara fisik dalam kemiskinan. Bukan sebuah hal cukup sulit juga untuk menemui sebuah kondisi tersebut dalam sosialitas masyarakat kita. Di sisi lain, penderitaan psikologis dalam sebuah kemiskinan dapat kita pahami dengan acuan penderitaan fisik yang dapat kita lihat.

Secara harfiah bisa kita maknai bahwa kemiskinan cenderung “hanya” akan memberikan sebuah penderitaan. Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar merupakan salah satu pemahaman yang perlu kita waspadai dalam fenomena pada masyarakat kita. “Tuhan” pada kondisi ini mencoba dimaknai sebagai wujud identifikasi dari sebuah moral, kebaikan, kejujuran, kerja keras, yang segalanya bersumber dari nilai-nilai Tuhan secara universal pada setiap ajaran agama yang ada. Sehingga memunculkan sebuah kondisi terbaik yang memberikan kebaikan pula. Mencoba lebih mendalami dari sebuah “fenomena” Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar ini sesuai dengan pembedahan makna sebelumnya, kita dihadapkan dengan sebuah “rasionalitas” akan keadaan yang sekarang. Apakah itu sebuah pembenaran atau bukan, kemiskinan dianggap menjadikan manusia hanya menjadi sebuah “objek”.

Manusia merupakan individu yang dirasionalkan, ditempatkan sebagai objek pada sebuah kondisi kemiskinan yang cenderung berujung pada pembenaran jika Tuhan tidak disembah dalam keadaan perut lapar. Pendapat ini hanyalah salah satu analisis yang mencoba dimunculkan terkait dengan kemiskinan yang telah mengakar pada negeri ini. Kondisi kemiskinan di negeri ini memunculkan banyak permasalahan tentang moral dan kejujuran. Kemiskinan dijadikan sebagai basis pembenaran akan perilaku amoral dan kecurangan. Banyak kasus yang bisa kita klaim dalam hal ini. Munculnya produk-produk makanan yang sangat membahayakan terkait dengan keinginan untuk mendapatkan sebuah keuntungan yang menggiurkan. Kondisi ini sepertinya menjadikan manusia sebagai objek dalam sebuah kondisi kemiskinan. Fenomena tidak sedikitnya para “pengemis” yang muncul pada akhir-akhir ini. Penipuan-penipuan dalam berbagai modus yang begitu meresahkan. Pencurian, perampokan, maupun bentuk kecurangan-kecurangan dan kejahatan yang lainnya. Sekali lagi manusia menjadi sebagai objek dalam kondisi kemiskinan.

Fenomena permasalahan akan seperti ini memang tidak bisa dipahami hanya dengan satu sudut pandang saja. Selalu ada dinamika yang cukup kompleks sebagai kondisi klasik. Beberapa klaim kasus di atas apakah bisa dikatakan bahwa Tuhan tidak bisa disembah dalam keadaan perut lapar? Kecurangan, ketidakjujuran, immoralitas yang muncul akibat kondisi perut lapar (baca: kemiskinan) apakah itu dibenarkan? Saya lebih mencoba menekankan sebuah pernyataan tidak. Karena secara kenyataannya memang ada sebuah kondisi yang kontras dengan fenomena negatif yang muncul akibat kemiskinan. Di negeri ini masih ada manusia-manusia yang mampu menyembah Tuhannya dalam keadaan perut lapar. Masih ada kejujuran, moralitas, maupun kebaikan yang masih dijunjung oleh manusia-manusia yang terkondisi pada perut yang lapar sebagai sebuah harta yang tidak mampu kita rasionalkan secara pasti. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa ada faktor lain yang menyebabkan kemiskinan ini menjadikan kita hanya sebagai objek. Faktor eksternal yang tidak bisa kita kendalikan sesuai dengan keinginan kita.

Tulisan ini hanya sebuah refleksi berpikir bagi kita semua. Bahwa ada permasalahan yang mendasar, permasalahan yang memerlukan kesadaran kita semua sebagai individu dan sebagai manusia. Mungkin beberapa kalangan menganggap bukanlah hal yang etis saat menjadikan kemiskinan sebagai hal yang diperdebatkan tentang moral ataupun amoral. Akan tetapi dalam hal ini kita semua mencoba untuk lebih menyadari bersama bahwa kemiskinan janganlah selalu dipersalahkan dengan faktor eksternal yang ada, meskipun hal tersebut juga memiliki kapasitas dalam “memelihara” kemiskinan. Berhati-hatilah dengan perkataan bahwa Tuhan tidak bisa disembah dalam keadaan perut lapar karena Tuhan selalu bisa disembah dalam kondisi yang terburuk sekalipun saat kita menyadari bahwa kita selalu mempunyai potensi menjadikan nilai-nilai Tuhan secara universal sebagai cara pandang hidup kita.

“Selalu ada jalan kebahagiaan saat seseorang menyadari kekayaan hati pada nilai-nilai Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s